Salam Nasional Merdeka Genuine Milik Indonesia!

bersuaraonline.com – Anggapan bahwa selama ini seolah pekik “Merdeka” itu identik dengan salam suatu partai politik. Namun demikian, apabila kita menelisik sejarah lebih lanjut lagi, pekik “Merdeka” itu adalah salam nasional bangsa Indonesia.

Bulan Agustus selalu identik dengan Hari bersejarah bagi Bangsa Indonesia, dimana pada bulan ini Republik Indonesia menyatakan Kemerdekaannya, yang dikumandangkan oleh Bapak Bangsa kita yaitu Ir. Sukarno tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Dua minggu berselang pasca dikumandangkannya Proklamasi, persisnya 1 September 1945 Bung Karno menetapkan Salam Merdeka sebagai salam Nasional Republik Indonesia.

Dalam bukunya Soekarno yang ditulis Oleh Jurnalis asing Cindy Adams yang berjudul “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” dituliskan “aku menetapkan supaya setiap warga negara Republik memberi salam kepada orang lain dengan mengangkat tangan, membuka lebar kelima jarinya sebagai pencerminan lima dasar negara dan meneriakkan, merdeka!”.

Salam Merdeka sebagai salam Kebanggan Negara Republik Indonesia yang dibuat oelh Sukarno ini rupanya terinspirasi Nabi besar Muhammad SAW, memperkenalkan salam untuk mempersatukan umatnya.

Tepat sehari sebelum penetapan Salam Merdeka yakni pada tanggal 31 Agustus 1945, ada pawai yang menyambut gembira atas berdirinya Komite Nasional Indonesia (KNI) melintas didepan kediaman Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta.

Sukarno kemudian keluar rumah menyambut massa. Tampak juga Wakil Presiden Mohamad Hatta, Ibu Fatmawati, Kasman Singodimedjo, Dr Moewardi, Soediro, Latu Harhari, dan lain-lain, seraya mengucapkan salam Nasional ‘Merdeka!’.

Faktanya, proses depolitisasi pada masa Pemerintahan Presiden Suharto dan desukarnoisme selama 32 tahun, salam nasional ini tidak pernah diucapkan lagi. Ironi, jamak masyarakat Indonesia pada masa kini menganggap salam nasional itu hanya identik dengan slogan politik milik Partai Politik.

Tangan kanan naik setinggi telinga. Jari lima bersatu. Apakah artinya itu? Negara kita telah merdeka. Suara mengguntur mengucapkan salam nasional: Merdeka! Begitulah tata-cara sederhana pengucapan salam nasional itu.

Pada tanggal 24 September 1955, di Surabaya, Bung Karno menjelaskan filosofi di balik pekik ‘Merdeka’ itu:

“Pekik merdeka, saudara-saudara, adalah “pekik pengikat”. Dan bukan saja pekik pengikat, melainkan adalah cetusan daripada bangsa yang berkuasa sendiri, dengan tiada ikatan imprealisme—dengan tiada ikatan penjajahan sedikit pun. Maka oleh karena itu, saudara-saudara, terutama sekali fase revolusi nasional kita sekarang ini, fase revolusi nasional belum selesai, jangan lupa kepada pekik merdeka! Tiap-tiap kali kita berjumpa satu sama lain, pekikkanlah pekik “merdeka”.

Referensi: 1, 2

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *