Saham infrastruktur bisa tahan lama

KONTAN.CO.ID – Selama lima tahun terakhir, banyak emiten mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Tapi, tak semua lantas cocok buat investasi. Sebagian besar di antaranya justru menjadi saham tidur atau saham gorengan. Bahkan, ada juga yang terjebak suspensi cukup lama.

Analis menilai, dari saham yang IPO lima tahun terakhir, yang laik untuk investasi kebanyakan berasal dari sektor infrastruktur. Saham PT Waskita Karya Tbk (WSKT) misalnya.

Pada 2012 silam, WSKT menggelar initial public offering (IPO) dengan harga perdana Rp 380 per saham. “Sekarang, coba lihat harganya berapa,” ujar analis First Asia Capital David Sutyanto kepada KONTAN, Rabu (6/9).

WSKT kemarin (6/9) ditutup Rp 2.100 per saham. Sejak 2012, saham emiten pelat merah itu sudah naik lebih dari 450%. WSKT juga terbilang rajin membagi dividen. Likuiditas saham ini pun menarik. Setidaknya hal itu tecermin dari posisi WSKT yang menjadi salah satu anggota indeks LQ45.

Sehingga, WSKT bisa dibilang telah memenuhi sejumlah unsur saham menarik. Tidak hanya untuk transaksi jangka pendek, tapi juga investasi jangka panjang.

Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas Kevin Juido menambahkan, sektor penunjang infrastruktur ikut terimbas prospektifnya saham infrastruktur. “Ini sejalan dengan program pemerintah terkait percepatan pembangunan infrastruktur,” kata dia. Nah, peluang inilah yang bisa dimanfaatkan perusahaan penunjangnya.

Di luar infrastruktur, PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR) menurut David cocok untuk investasi jangka panjang. Ada beberapa faktor yang menjadi alasan. Salah satunya, bisnis yang dijalani POWR terbilang prospektif. Faktor negatif bagi bisnis POWR kebanyakan faktor eksternal, seperti harga bahan baku pembangkit listrik. Jadi, tinggal pintar-pintar manajemen melakukan efisiensi.

PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) masih jadi salah satu saham favorit ditransaksikan. Saham ini hampir tak pernah absen dari 10 saham dengan volume harian tertinggi. Kemarin, volume transaksi SRIL sebanyak 379 juta saham.

Volume yang besar akan membuat investor mudah masuk, tapi juga mudah keluar. SRIL juga terbilang sering menerbitkan rilis terkait fundamental perusahaan.

“Karena secara umum, saham yang cocok untuk transaksi jangka pendek itu saham yang memiliki volume besar dan punya banyak cerita,” jelas David.

Untuk jangka pendek, dia merekomendasikan buy SRIL dengan target Rp 400 per saham.

Saham PT Adi Sarana Tbk (ASSA) juga menarik untuk jangka pendek. Ia merekomendasikan buy dengan target Rp 300.

Kevin menjagokan PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP). Rekomendasinya buy dengan target Rp 600 per saham. Saham PT MAP Boga Adiperkasa Tbk (MAPB) juga menarik. Kevin merekomendasikan buy dengan target Rp 2.800 per saham. “Tapi saham itu (WSBP dan MAPB) untuk jangka panjang,” kata dia.

Meski demikian, tak sedikit saham yang kurang menarik untuk investasi jangka panjang, bahkan trading. Kebanyakan saham itu tak aktif ditransaksikan alias menjadi saham tidur. Sejak 2012, setidaknya ada beberapa saham yang tidur karena berbagai alasan, mulai dari fundamental kurang menarik, volume, tersandung kasus hukum dan faktor lain. Beberapa diantaranya saham PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk (BBRM), PT Citra Maharlika Nusantara Corpora Tbk (CPGT) dan banyak lagi.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *