Xi Jinping dan Impian China

Kongres Ke-19 Partai Komunis China, yang dimulai Kamis lalu, tak pelak lagi menjadi panggung penegasan kekuasaan Presiden Xi Jinping.

Ketika China melancarkan reformasi ekonominya lebih dari 35 tahun silam, Deng Xiaoping ketika itu menasihatkan agar Beijing lebih fokus pada pembangunan ekonomi. Deng juga menasihati agar China menunggu waktunya untuk tampil sekaligus berlaku low profile.

Hasil dari reformasi ekonomi itu kini bisa dirasakan rakyat China. Bahkan, dunia pun “merasakan” reformasi ekonomi tersebut karena serbuan produk-produk China. China telah muncul sebagai kekuatan ekonomi besar dunia yang membuat gentar banyak negara.

Meskipun sekarang sudah menjelma menjadi kekuatan besar, terutama dalam bidang ekonomi, China tetap belum bisa memainkan peran seperti Amerika Serikat di panggung dunia. AS, selama ini, mampu memainkan peran sebagai polisi dunia, walaupun belakangan ini sejak dipimpin Presiden Donald Trump agak “berantakan”, terutama perannya di kancah internasional.

Ada perbedaan, katakanlah, fundamental antara AS dan China. Menurut Börje Ljunggren, mantan Dubes Swedia untuk China, sekalipun China merupakan mitra dagang terbesar lebih dari 100 negara, mereka tetap merupakan “kekuatan tunggal” tanpa sekutu. Sementara AS memiliki lebih dari 50 sekutu, termasuk Jepang dan Korea Selatan, yang keduanya adalah tetangga China.

Sekarang ini, di bawah Xi Jinping, China memfokuskan pada usaha untuk merealisasikan “Impian China”; menjadi tidak hanya kekuatan besar di bidang ekonomi, tetapi juga memiliki pengaruh yang kuat di bidang lain dan mampu memainkan peran yang menentukan. Misalnya, bagaimana China benar-benar bisa-tanpa diganggu AS-menjadi kekuatan besar di kawasan Asia Timur dan Tenggara dan kehadirannya dirasakan sebagai memberikan kedamaian dan perdamaian.

Xi Jinping, memang, di dalam negeri menjadi semakin kuat. Ia pemimpin yang sangat berkuasa. Akan tetapi, Xi ditantang untuk membawa China memasuki zaman perubahan, ditantang untuk menjadikan Partai Komunis China mampu menghadapi perubahan zaman. Xi menyatakan bahwa di tangannya sosialisme China akan memasuki “era baru”. Era baru seperti apa?

Sejarah mencatat bahwa Mao Zedong dikenal sebagai mempromosikan perjuangan kelas; Deng Xiaoping memilih kapitalisme pragmatik. Sebagai apakah Xi Jinping nantinya dikenal. Visi Xi adalah merestorasi kebesaran China, yang disebutnya sebagai Impian China.

Apa pun Impian China, negara-negara sekitar, termasuk Indonesia, tetaplah berharap bahwa China dengan Xi Jinping menjadi semakin toleran terhadap negara-negara tetangga dan kehadirannya memberikan perdamaian.

Sumber : https://kompas.id/baca/opini/2017/10/23/xi-jinping-dan-impian-china/

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *