Pembentukan Keluarga Tidak Terencana

JAKARTA, — Membangun keluarga melalui pernikahan masih menjadi cita-cita anak muda Indonesia. Namun, umumnya keluarga itu dibangun tanpa perencanaan matang dan kemampuan memadai mengelola keluarga. Padahal, ketahanan keluarga adalah dasar ketahanan negara.

“Membangun keluarga masih menjadi idaman anak muda,” kata Fasli Jalal, mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional dan mantan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, seusai diskusi “Problematika Keluarga Berencana dan Solusinya” di Jakarta, Selasa (24/10).

Anak muda saat ini masuk kelompok generasi milenial, mereka yang lahir pasca-1980an. Salah satu karakter yang menonjol dari generasi ini adalah langgas dan terbuka, termasuk perilaku seksualnya. Mereka juga mandiri dan banjir informasi.

Namun, anak muda Indonesia juga dihadapkan pada menguatnya konservatisme agama. Kondisi membuat pembentukan keluarga melalui pernikahan, termasuk pernikahan di usia remaja, sering dijadikan solusi melindungi mereka dari perilaku seksual tak bertanggung jawab.

“Jika itu jadi pilihan, harus disadarkan bahwa hamil, melahirkan, dan memiliki anak butuh persiapan lebih matang,” kata Fasli. Menentukan jumlah anak, waktu kehamilan, dan menjaga jarak antarkelahiran harus direncanakan karena berdampak besar pada kesejahteraan dan kelangsungan keluarga.

Fransisca Handy Agung, anggota tim pranikah.org, lembaga yang mengampanyekan persiapan pernikahan, dan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan Tangerang, mengatakan, perencanaan membangun keluarga masih jauh dari pikiran anak muda.

Menikah dianggap sekadar seremoni akad atau pemberkatan, pesta resepsi, dan upacara adat. “Padahal, pernikahan hanya langkah awal membangun keluarga,” ucapnya.

Sulitnya anak muda merencanakan pembangunan keluarga adalah buah dari banyak hal, mulai dari kurangnya lembaga pranikah, proses pendidikan membuat anak kurang bisa berpikir panjang, pola asuh anak sejak kecil tak tepat, hingga pembangunan anak muda yang terpinggirkan.

Banyak orangtua mengambil peran yang bisa dilakukan anak. Saat kunjungan ke dokter, misalnya banyak orangtua menjawab keluhan sakit anak meski anak sudah bisa mengatakan sakitnya. “Itu terbawa hingga mereka menikah yang membuat banyak keputusan keluarga anak diambil alih orangtua,” katanya.

Berkelanjutan

Tanpa perencanaan matang, pernikahan rentan berakhir perceraian. Perceraian juga menunjukkan kegagalan fungsi keluarga. Kegagalan keluarga itu berdampak luas kepada anak, masyarakat, dan pembangunan bangsa.

Fasli menambahkan, keluarga yang kuat jadi penentu keberhasilan Indonesia meningkatkan kualitas manusia Indonesia serta mencapai sejumlah target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Jadi isu perencanaan keluarga perlu dikomunikasikan dengan bahasa mudah dipahami anak muda. Paradigma pembangunan anak muda harus diubah karena selama ini terpinggirkan.

Di sisi lain, pemerintah perlu serius menyiapkan lembaga pranikah. “Sama seperti sekolah, menikah butuh kesiapan,” kata anggota tim pranikah.org dan psikolog hubungan romantis dari Universitas Bina Nusantara Jakarta, Pingkan CB Rumondor.

Banyak aspek perlu disiapkan menjelang pernikahan, mulai dari psikologi, kesehatan, keuangan, hingga hukum. Persiapan pranikah bisa menyelamatkan keluarga sejak awal, menekan angka perceraian yang mencapai 10 persen dari total perkawinan per tahun, menekan kasus penelantaran anak dan kekerasan dalam rumah tangga. (MZW)

Sumber : https://kompas.id/baca/ilmu-pengetahuan-teknologi/2017/10/25/pembentukan-keluarga-tidak-terencana/

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *