Generasi Muda Menjaga Bangsa

Tidak hanya tonggak sejarah perjuangan historis mengindonesia, Sumpah Pemuda juga peristiwa yang terus menawarkan aktualisasi.

Harian ini dalam tiga kali terbitannya, 23-25 Oktober yang lalu, mewawancarai sejumlah anak muda, lahir 1980-1999. Ditunjukkan sejumlah terobosan yang dilakukan kaum muda rata-rata berusia di bawah 30 tahun itu di berbagai bidang. Generasi milenial memiliki cara berpikir dan cara menemukan solusi sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka yakin, dan sudah mereka tunjukkan dalam berbagai bidang kegiatan, energi milenial akan mengubah arah bangsa ke depan.

Wawancara itu hanya sepintas, belum dilanjutkan survei. Meskipun demikian, inspirasi yang ditawarkan sangat produktif. Kenyataan bahwa mungkin saja jumlahnya kecil, tetapi kita sepakat generasi milenial memiliki berbagai kelebihan dibanding generasi sebelumnya. Kemajuan teknologi memungkinkan mereka bekerja lebih logis dan terukur, di antaranya dalam memberikan pengaruh signifikan dalam berbagai bidang kehidupan.

Seperti generasi 28, persentase jumlah generasi milenial sangat kecil dibanding jumlah total penduduk. Mereka adalah generasi kritis yang mengandalkan nalar dan budi, kemampuan otak dan hati nurani, yang mungkin melawan arus umum. Begitu juga jumlah pencetus Sumpah Pemuda, tekad dan gerakan yang dihasilkan Kongres Pemuda II di Gedung Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya 106—sebelumnya Kongres Pemuda I diselenggarakan di aula Katedral Jakarta—merumuskan secara visioner keyakinan dan spirit Angkatan 28.

Dengan semangat, tekad dan gerakan itu diperkecil faktor mayoritas dan minoritas. Perbedaan adalah keniscayaan yang menyatukan. Perbedaan perlu disyukuri, karena itu sejak awal pemadatan gagasan merdeka sudah jauh dari arogansi mayoritas. Menghidupi dan mengobarkan semangat perjuangan Indonesia adalah usaha bersama, berasal dari beragam suku, bahasa, agama, latar belakang budaya dan ekonomi, ikut serta di dalamnya.

Mengenali aktualitas persoalan, ditawarkan sejumlah persoalan besar, di antaranya masalah kesenjangan sosial, narkoba, dan korupsi. Kita sedang mengalami proses detradisionalisasi, kata Uskup Agung Jakarta Mgr Suharyo. Kehidupan sosial tidak lagi dipertimbangkan atas baik dan buruk, pantas dan tidak, tetapi mana yang cocok.

Magna carta 28 Oktober 1928, Hari Sumpah Pemuda, merupakan ingatan kolektif yang perlu terus kita aktualkan dan perkaya. Memelihara ingatan kolektif, dasar membangun semangat kesatuan dan persatuan.

Upaya kreatif generasi milenial mungkin bisa menjadi virus positif dalam upaya menangkal berbagai kondisi yang memprihatinkan. Mereka menawarkan harapan cerah masa depan Indonesia.

Sumber : https://kompas.id/baca/opini/2017/10/28/generasi-muda-menjaga-bangsa/

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *