Budaya Inovatif, Inovasi Budaya

Dikisahkan dalam sejarah bahwa ketika Gunung Tambora di Sumbawa meletus pada April 1815, abunya menyebar hingga langit Eropa. Bulan-bulan berikutnya, yang mestinya musim panas di Eropa, berubah menjadi musim dingin berkepanjangan.

Karena aerosol sulfat yang disemburkan oleh letusan Tambora tertahan di atmosfer dan menghalangi sinar matahari menembus hingga ke permukaan bumi, orang Eropa tidak tahu apa yang terjadi dengan perubahan iklim tersebut. Banyak kuda mati karena tidak tersedia rumput sebagai makanan utama. Rumput tidak bisa hidup gara-gara minimnya sinar matahari. Padahal, kuda menjadi andalan untuk menarik kereta sebagai sarana transportasi utama di Eropa saat itu.

Dari bencana ke inovasi

Peristiwa meletusnya Tambora menjadi pemicu awal penemuan sepeda. Seorang Jerman bernama Baron Karl von Drais mempunyai ide membuat sepeda sebagai ganti kereta kuda. Akhirnya terealisasi sepeda yang mampu memudahkan pergerakan manusia setelah beberapa kali modifikasi. Sungguh luar biasa bahwa bencana letusan gunung di sebuah pulau di Nusantara menjadi pemicu temuan teknologi jauh di daratan Eropa sana. Sementara di Nusantara sendiri waktu itu tidak ada temuan teknologi yang mengikutinya selain musnahnya beberapa suku di sekitar Sumbawa dan Lombok.

Tentu bisa dimengerti mengapa orang Eropa punya budaya inovatif. Mereka merespons akibat bencana dengan usaha inovatif menciptakan produk teknologi baru untuk memudahkan hidup mereka. Tanpa itu, mereka akan menghadapi kesulitan. Di sini, di bumi Nusantara, semua serba mudah, tidak ada kuda mati karena rumput tetap hidup. Matahari tersedia sepanjang tahun. Kuda dan kereta kuda tetap bisa beroperasi. Kekayaan alam dan iklim yang menguntungkan telah membuat kita hidup nyaman, tidak ada tantangan.

Pada tahun-tahun berikutnya, orang Eropa membuat temuan baru berupa telegram. Karena itu, ketika Gunung Krakatau meletus dengan dahsyat pada 1883, kabar Gunung Krakatau yang meletus itu bisa langsung diketahui di Belanda berkat telegram yang dikirim dari Batavia. Orang-orang Eropa rajin meneliti dan membuat temuan inovatif di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka, lahirlah karya-karya besar berupa algoritma dan produk teknologi. Newton keluar dengan teori gravitasi dan hukum mekanika, Leibniz menemukan teori kalkulus, dan banyak lagi temuan di bidang kesehatan dan teknologi, seperti vaksin dan mesin uap.

Sementara di sini pujangga kita sibuk menciptakan karya inovasi berupa tembang mocopat, gurindam, dan karya sastra lain yang lebih kental aroma seninya daripada ilmu pengetahuan atau teknologi. Mungkin bakat kita memang lebih ke seni. Maka tak mengherankan jika pada  1992, M Dorigo, seorang mahasiswa PhD dari Italia, dapat inspirasi temuannya di bidang komputasi berupa algoritma ant colony optimization setelah mengamati perilaku semut. Sementara grup rock legendaris Godbless terinspirasi semut untuk membuat lagu ”Semut Hitam” empat tahun sebelumnya. Binatang yang sama, yang satu  menghasilkan algoritma untuk menyelesaikan masalah optimasi kombinatorial, yang satu menghasilkan tembang rock.

Budaya melakukan inovasi atau sebutlah budaya inovatif sebenarnya melekat pada diri bangsa ini. Kita punya budaya bagus dalam hal pengobatan. Banyak jamu warisan nenek moyang berasal dari tanaman atau hewan. Kita punya keahlian memijat urat keseleo atau mengobati tulang retak atau patah dengan operasi khas kita. Kita punya teknik menolak hujan dengan kekuatan pawang. Kita juga punya ahli ketok magic yang bisa membetulkan mobil penyok dengan cepat dan hasil memuaskan.

Sayangnya, temuan inovatif itu jarang ditulis dan ditularkan secara massal melalui institusi pendidikan. Teknik-teknik dan warisan nenek moyang itu sering tersebar hanya melalui budaya tutur dan kadang terkesan mistis tanpa ada penjelasan yang ilmiah dan bisa diterima akal sehat. Dengan demikian, hasil karya hebat itu berkembang turun-temurun dalam jumlah yang sangat minim dan tidak terbuka.

Ketika Presiden Joko Widodo mengungkapkan kegelisahannya akan budaya inovasi yang belum berkembang beberapa waktu lalu di Surabaya, itu sejatinya cerita lama. Namun, kita bersyukur punya pemimpin yang perhatian terhadap inovasi. Pada era ini, inovasi jadi kunci kemajuan suatu bangsa. Lupakan dulu sumber daya alam berlimpah dan tanah subur.

Penghambat inovasi

Ada beberapa penyebab mengapa temuan inovatif dan budaya inovatif kurang berkembang di negara kita.

Pertama, industri kita umumnya adalah industri yang lebih banyak menjual dan merakit, bukan membuat produk. Dalam industri yang menjual dan merakit, inovasi tidak jadi kebutuhan utama. Karena itu, kegiatan riset dan pengembangan sebagai instrumennya juga tak dibutuhkan. Industri jenis ini tidak peduli temuan-temuan di perguruan tinggi dan lembaga riset yang bisa dikembangkan menjadi produk jadi. Lebih baik bagi mereka membuka impor dan menjualnya secara besar-besaran.

Di sisi lain akan sulit bagi  para peneliti untuk merangkap menjadi produsen guna melanjutkan temuannya menjadi produk komersial. Perlu kalangan yang lebih fokus pada bisnis untuk menindaklanjuti temuan para peneliti. Jika industri kita masih didominasi jenis ini, link and match antara industri dan perguruan tinggi dan lembaga penelitian tidak akan jalan. Temuan-temuan akan berakhir di perpustakaan dan publikasi saja.

Pada industri yang telah memproduksi, pemerintah harus memberikan insentif agar mereka tertarik bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk melakukan riset dan membuat produk hasil temuannya. Kalau insentif tidak cukup membuat perubahan, pemerintah perlu membuat regulasi yang memaksa mereka untuk berkontribusi pada penelitian di perguruan tinggi. Tanpa itu, industri tidak akan terlalu peduli dengan penelitian di perguruan tinggi. Mereka merasa sudah mendapatkan profit besar tanpa perlu memberi kontribusi pada pendidikan tinggi.

Kedua, kendala pemasaran (marketing barrier). Peneliti atau investor di negara maju mungkin tidak khawatir, apakah temuannya bisa dipasarkan. Di negara besar jika ada temuan baru dan susah memasarkan mereka bisa ”menumpang” di organisasi dunia, seperti PBB. Misalkan temuan di bidang kesehatan, mereka bisa memanfaatkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk jualan. Temuan di bidang pertanian, bisa ”menumpang” Organisasi Pangan Dunia (FAO) untuk jualan, dan masih beberapa lagi trik serupa. Namun, di negara kita, orang masih berhitung jika misalkan akan mengembangkan produk baru, pasti terpikirkan bagaimana memasarkannya. Negara berkembang memang kurang beruntung jika ingin menembus pasar asing. Kesulitan pemasaran ini kadang membuat kita takut mengembangkan produk baru.

Ketiga, sikap kita sendiri yang sering menganggap remeh (underestimate) terhadap karya anak bangsa. Sikap import minded harus diakui masih belum hilang. Kebanggaan akan produk karya sendiri masih rendah. Jika ada karya anak bangsa yang belum sempurna malah sering dicari kelemahannya daripada didukung. Contoh mobil Esemka yang tidak lolos uji emisi. Jika itu benar, mestinya harus diberikan fasilitas dan bukan dihambat. Begitu juga kisah mobil listrik yang pernah dikendarai Dahlan Iskan. Penghambatan biasa dilakukan di level regulasi dan tindakan hukum. Masih ada beberapa orang Indonesia yang bekerja justru bukan untuk kemakmuran bangsanya, melainkan menjadi agen produk asing. Mereka berpikir untung-rugi saja untuk diri dan kelompoknya. Orang-orang seperti ini bisa ada di parlemen atau di eksekutif. Mereka mencegah sebisa mungkin sektor-sektor yang berpotensi dimasuki oleh produk-produk domestik. Dengan begitu, sering inovasi terhambat oleh sikap-sikap seperti ini.

Keempat, faktor regulasi. Regulasi kita memang berjalan lambat dan kadang tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Presiden Jokowi mengungkapkan ada 42.000 regulasi, mulai dari undang-undang hingga peraturan wali kota. Terlalu banyaknya aturan ini ikut menghambat  lahirnya temuan baru yang inovatif. Ketika sudah banyak hal berubah di masyarakat akibat kemajuan teknologi, respons regulasi kita lambat. Kalaupun kemudian keluar regulasi, sering isinya tidak kondusif bagi iklim temuan inovatif. Ini paralel dengan lambatnya birokrasi kita.

Serangkaian faktor di atas merupakan faktor penyebab mengapa temuan inovatif kurang berkembang di sini. Budaya kita cenderung juga kurang mendukung karya inovasi kecuali pada karya-karya seni atau kuliner. Kalaupun ada yang di luar seni, tidak bersifat ilmiah yang bisa disebarkan secara massal dan terbuka. Kalau kita akan berkompetisi di dalam inovasi kita harus memilih di sektor mana. Jika kita ingin berinovasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, kita butuh usaha lebih keras. Sebab, negara-negara lain juga sedang giat mengembangkan inovasi di berbagai produk teknologi. Mereka sadar bahwa inovasi merupakan kunci dari perkembangan suatu bangsa. Jika ingin memenangi persaingan, inovasilah kuncinya. Kekayaan sumber daya alam dan kesuburan tanah tidak banyak membantu jika tidak dibarengi dengan karya-karya inovatif.

Fokus dan inovasi budaya

Kita bisa fokus mengembangkan karya inovasi di bidang-bidang di mana kita unggul. Bidang itu antara lain seni, kuliner, dan obat herbal. Misalnya menggalakkan pariwisata berbasis seni budaya. Kekayaan seni budaya kita mendukung untuk itu. Pengembangan obat herbal, tanaman organik, serta industri kuliner juga merupakan kekayaan kita yang lain. Dalam bidang ini kalau kita bisa membuat inovasi, potensi pasar dalam negeri sudah cukup besar untuk menggerakkan ekonomi. Tinggal bagaimana dukungan regulasi.

Kita juga harus berinovasi di dalam budaya. Inovasi di dalam budaya diharapkan menghasilkan cara kerja dan sikap baru yang lebih bermanfaat. Budaya di sini tidak melulu soal seni, warisan peninggalan, bangunan kuno, pakaian adat atau kuliner. Tetapi lebih luas adalah budaya di pemerintahan, hukum dan politik. Budaya melayani dan membuat yang sulit jadi mudah haruslah dikembangkan. Budaya ”kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah” harus ditinggalkan. Di sisi pemerintahan, kita perlu menciptakan inovasi dalam birokrasi dan perizinan serta hukum. Misal penggunaan e-budgeting, e-procurement dan e-government adalah contoh inovasi yang mampu mempercepat proses sekaligus menghilangkan peluang kebocoran dan korupsi.

Sistem layanan yang lain perlu dibuat sistem daring sehingga memangkas waktu layanan dan mempermudah masyarakat mendapatkan layanan. Inovasi di bidang politik antara lain bisa diwujudkan dalam cara-cara berkampanye yang inovatif, tidak mengumbar janji yang tidak masuk akal. Inovasi yang lain, misalnya perekrutan anggota partai politik dan calon anggota parlemen, dan inovasi penggalangan dana partai. Inovasi di bidang pemerintahan dan politik akan punya pengaruh besar dalam melahirkan karya-karya inovasi bidang lain.

BUDI SANTOSA, Profesor di Departemen Teknik Industri dan Anggota Senat Akademik ITS

Sumber : https://kompas.id/baca/bebas-akses/2017/11/13/budaya-inovatif-inovasi-budaya/

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *