Utamakan Paradigma Sehat

JAKARTA, — Anggaran program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat tersedot untuk pengobatan penyakit katastropik, termasuk penyakit jantung. Untuk itu, paradigma hidup sehat perlu digalakkan agar pola pikir warga berubah dari mengobati jadi mencegah penyakit.

Hal itu mengemuka dalam simposium bertema “Pencegahan Penyakit Katastropik Khususnya Aterosklerosis atau Penyempitan Pembuluh Darah”, Sabtu (11/11), di Jakarta. Simposium itu diprakarsai Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI).

Ketua Divisi Penataan Sistem Pelayanan Kesehatan Primer PB IDI Didik K Wijayanto, di sela- sela simposium itu, menyatakan, paradigma sehat belum diterapkan sebagian besar masyarakat Indonesia. Keberadaan program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) turut menyebabkan pola pemeliharaan kesehatan masyarakat cenderung kuratif dan rehabilitatif.

Peran puskesmas

Menurut Didik, puskesmas yang peran dan fungsinya di garda terdepan pencegahan penyakit kini berfungsi sebagai tempat perawatan medis tingkat kecamatan, dilengkapi fasilitas kasur pasien. Ke depan, peran puskesmas diharapkan kembali pada aspek promotif dan preventif.

“Berapa pun jumlahnya, dana JKN tak akan cukup jika hanya fokus pada layanan kuratif dan rehabilitatif. Promotif dan preventif ini penting, apalagi kalau kita melihat yang menyedot pendanaan terbesar ialah katastropik (penyakit berbiaya tinggi dan bisa mengancam jiwa),” ujarnya.

Dokter spesialis saraf dari Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Teguh Ranakusuma memaparkan, pencegahan primer merupakan tindakan pencegahan terhadap kemungkinan ada gejala penyakit kardiovaskular saat seseorang sehat. Itu bisa dilakukan dengan mengubah gaya hidup dan pola makan serta memeriksakan kesehatan secara rutin.

Pencegahan primer dinilai penting karena salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular ialah keturunan. Jadi, deteksi dini perlu dilakukan sebelum muncul gejala. “Misalnya, orang kena diabetes ataupun hipertensi, sebagian karena faktor genetik, sekitar 20 persen,” ucapnya.

Pada 2014-2016, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mengeluarkan dana Rp 166 triliun. Rinciannya, Rp 132 triliun untuk fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut (FKRTL) dan Rp 34 triliun untuk fasilitas kesehatan tingkat primer (FKTP). Adapun biaya penanganan penyakit katastropik pada 2014-2016 Rp 36,3 triliun atau 28 persen dari biaya total pelayanan kesehatan rujukan.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Fahmi Idris, beberapa waktu lalu, memaparkan, 51 persen dari 9.861.378 kasus katastropik pada 2014-2016 adalah penyakit jantung. Gagal ginjal menempati posisi kedua dengan proporsi 18 persen. Itu karena warga yang semula tak berobat akibat tidak ada biaya, kini dibiayai JKN sehingga pengeluaran bagi peserta lebih tinggi daripada iuran peserta JKN. (DD10/DD09)

Sumber : https://kompas.id/baca/ilmu-pengetahuan-teknologi/2017/11/13/utamakan-paradigma-sehat/

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *