Yogjakarta, Sebanyak 13 anak usia 4-5 tahun naik ke panggung dengan warna pakaian senada, putih-merah. Saat mereka sudah berbaris rapi, satu anak lain menyusul, berdiri paling depan menghadap mereka untuk berperan sebagai konduktor paduan suara.

Mereka adalah siswa-siswi TK Pangudi Luhur Yogyakarta yang menjadi peserta babak final Lomba Paduan Suara Anak Dendang Kencana 2017, di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Minggu (19/11).

Meski tidak membagi masing-masing suara ke dalam kelompok suara sopran, alto, tenor, maupun bass seperti kelompok paduan suara dewasa, bocah-bocah ini mampu memberi interpretasi terhadap lagu berjudul “Kerlip Bintang” karya Utamaningsih yang mereka bawakan.

Suara imut nan menggemaskan paduan suara ini mengundang decak kagum dan senyum haru dari puluhan penonton yang tidak lain adalah sanak keluarga dari para peserta.

Ketua Panitia Lomba Paduan Suara Dendang Kencana 2017 Paulina Dinartisti mengatakan, program ini digelar sebagai bentuk kepedulian Kompas Gramedia membenahi krisis yang pada beberapa tahun belakangan melanda lagu anak-anak.

“Sejak pertengahan tahun 2000-an jarang sekali ada lagu untuk anak-anak yang beredar di masyarakat. Anak-anak terpaksa menyanyikan lagu-lagu yang tidak cocok dengan dunia mereka,” kata Paulina

Alhasil, ajang yang terakhir kali digelar pada 1996, kembali dihidupkan untuk menciptakan lagu anak-anak yang berbobot dan layak dinyanyikan anak-anak. Dalam lomba, semua peserta menyanyikan materi lagu yang memenangi Lomba Cipta Lagu Anak 2017, bagian dari rangkaian Dendang Kencana 2017.

Babak final Lomba Paduan Suara Anak Dendang Kencana 2017 di Yogyakarta diikuti 10 sekolah untuk kategori TK/PAUD, dan 12 sekolah untuk kategori SD. Dua hari berturut-turut sebelum babak final, dilakukan babak seleksi yang diikuti 60 sekolah, terdiri dari 22 kelompok TK dan 38 kelompok SD, dengan total peserta 1.116 siswa.

Para peserta berasal dari sekolah-sekolah di Kota Yogyakarta dan daerah sekitarnya, seperti Klaten, Magelang, dan Solo.

Dosen Seni Musik Universitas Negeri Jakarta, Caecilia Hardiarini, yang juga menjadi salah satu juri Lomba Paduan Suara Anak menilai, meski masih berusia muda para peserta lomba memiliki kemampuan interpretasi yang baik terhadap lagu-lagu yang mereka bawakan.

Pemahaman dan pemaknaan para peserta terhadap lagu yang mereka nyanyikan baik karena lirik lagu memang disesuaikan untuk usia mereka. Contohnya ajakan untuk menabung, makan sayur, gemar membaca, dan menghormati guru.

Perbanyak lomba

Pengamat dan praktisi paduan suara dan salah satu juri Totok Pujiantoro berharap, perlombaan seperti ini diadakan rutin dan menjangkau sekolah-sekolah di daerah-daerah yang berada jauh dari Ibu Kota.

Dalam ajang kali ini untuk kategori TK/PAUD, TK Putra Bangsa Klaten menyabet juara Lomba Paduan Suara Dendang Kencana 2017 tingkat PAUD dan TK. TK Klaten Kridawita meraih peringkat II, TK Indriyasana Baciro Yogyakarta peringkat III, serta TK Bopkri Gondolayu Yogyakarta dan TK Marsudirini Surakarta sebagai pemenang harapan.

Untuk tingkat SD dimenangi SD Bentara Wacana Muntilan Magelang (juara), SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta (peringkat II), SD Putra Bangsa Klaten (peringkat III), SD Pangudi Luhur Yogyakarta (pemenang harapan), dan SD Bopkri Gondolayu Yogyakarta (pemenang harapan).

(DIMAS WARADITYA NUGRAHA)

Sumber : https://kompas.id/baca/dikbud/2017/11/20/biarkan-sang-bocah-menyanyikan-lagu-anak/