Banjir di Pacitan dan Yogyakarta, dampak ‘keserakahan pada alam’ dengan kerugian triliunan rupiah

Banjir di Pacitan dan Yogyakarta, dampak ‘keserakahan pada alam’ dengan kerugian triliunan rupiah

Tagar #PrayForPacitan sudah digunakan 12.400 kali, atau mengalami peningkatan 618.250%, sementara tagar #PrayForGunungKidul hanya dipakai dalam 515 cuitan, dan tagar #PrayForJogja hanya dipakai 2.800 kali.

Penggunaan tagar lain, #PrayForYogyakarta, malah cuma 93 cuitan. Namun dalam pencarian Google, kata “Jogja”, “Yogyakarta”, dan “Cuaca Jogja” menjadi tiga istilah yang paling banyak dicari dalam 10 pencarian terbesar.

CrowdtangleHak atas fotoCROWDTANGLE
Image captionPenggunaan tagar #PrayForPacitan di Crowdtangle.

Presiden Joko Widodo lewat cuitannya sudah menyatakan bahwa, “Pemerintah daerah dan pemerintah pusat sedang melakukan berbagai upaya di lokasi, semaksimal mungkin.”

Sementara itu, Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta, dalam cuitannya menulis, “Keserakahan pada alam menjadi derita masyarakat tak berdosa,” soal bencana di Pasuruan, sembari membagikan foto-foto yang menampilkan dampak bencana.

BNPB menyatakan bahwa dampak siklon tropis Cempaka telah menyebabkan bencana banjir, longsor dan puting beliung yang di wilayah Jawa, tetapi DI Yogyakarta, Wonogiri, Pacitan dan Ponorogo adalah daerah yang paling terdampak karena berjarak paling dekat dengan siklon tropis Cempaka.

“Cuaca ekstrem telah menyebabkan banjir, longsor dan puting beliung di 28  kabupaten/kota di Pulau Jawa dan Bali,” kata Sutopo Purwo Nugroho, jubir BNPB dalam pernyataan yang diberikannya.

Banjir di PacitanHak atas fotoBNPB
Image captionBanjir akibat siklon Cempaka masih merendam Pacitan, Magetan, Wonogiri, dan Klaten. 

Kerugian triliunan rupiah

Data sementara yang dihimpun Posko BNPB, bencana tersebut terjadi Kabupaten Situbondo, Sidoarjo, Pacitan, Wonogiri, Ponorogo, Magetan, Serang, Cilacap, Sragen, Boyolali, Trenggalek, Sukabumi, Purworejo, Magelang, Tulungagung, Semarang, Klaten, Malang, Wonosobo, Klungkung, Kota Yogyakarta, Gunung Kidul, Kulon Progo, Sleman, Bantul, Kudus, dan Sukoharjo.

Banjir, menurut BNPB, masih merendam Pacitan, Magetan, Wonogiri, dan Klaten.

Bencana ini menyebabkan 19 orang meninggal dunia, dengan rincian empat orang adalah korban banjir dan 15 lainnya korban longsor.

Banjir akibat siklon CempakaHak atas fotoBNPB
Image captionSiklon Cempaka merupakan siklon keempat yang dicatat Pusat Peringatan Dini Siklon Tropis sejak 2008.

Ribuan rumah, ribuan hektare lahan pertanian, dan fasilitas publik terendam banjir.

“Aktivitas masyarakat lumpuh total di Wonogiri, sebagian daerah di Yogyakarta dan Pacitan. Jalan lintas selatan yang menghubungkan Wonogiri hingga Ponorogo juga lumpuh karena tertutup longsor. Kerugian dan kerusakan ekonomi diperkirakan triliunan rupiah. Pencarian dan penyelamatan korban longsor di Pacitan masih dilakukan,” ujar Sutopo.

Di media sosial, percakapan soal bencana yang terjadi cukup beragam. Beberapa akun memberikan informasi terbaru soal kondisi banir dan pengungsi.

Sementara, masih ada juga yang saling menuduh bahwa aksi penyelamatan yang dilakukan adalah soal pencitraan.

Pengguna yang lain pun menggemakan sentimen yang juga disebut oleh Dedi Mulyadi, yaitu soal faktor kerusakan alam yang menjadi penyebab bencana. “Semoga hujan 2 hari ini membawa berkah, menyadarkan manusia dampak dari serakah dan pembangunan yg semakin membabi buta,” cuit @DewiMariati.

Siklon Cempaka, keempat sejak 2008

Sebelumnya, BMKG mengatakan, Siklon Cempaka merupakan siklon keempat yang dicatat Pusat Peringatan Dini Siklon Tropis sejak 2008.

BMKG mendeteksi Siklon Durga di barat daya Bengkulu pada 2008 dan Siklon Anggrek pada tahun yang sama di perairan barat Sumatera.

Siklon tropis terakhir yang muncul di Indonesia adalah Siklon Bakung di barat daya Sumatra pada 2014.

Menurut Ramlan, Kabid Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, negara di kawasan tropis seperti Indonesia biasanya jarang dihantam badai dan menambahkan perubahan fenomena alam berkaitan dengan variabilitas atau kecenderungan iklim yang berubah-ubah.

Namun Ramlan enggan menyebut fenomena alam ini disebabkan perubahan iklim akibat pemanasan global karena variabilitas iklim juga dapat membuat pergeseran waktu datangnya musim atau tingkat curah hujan di suatu daerah.

Sumber : http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-42163588

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *