Meninggikan Etika Politik

SEJATINYA tidak ada politik tanpa meninggikan etika. Etika politik ialah prinsip moral tentang baik-buruk dalam tindakan atau perilaku berpolitik. Dalam pengertian lain, etika merupakan landasan dari keseluruhan proses politik untuk mengejawantahkan ideologi negara yang luhur ke dalam realitas masyarakat.

Tentu, akibatnya akan fatal bila politik dibiarkan berjalan dengan menihilkan etika. Keadaban dan kesantunan menghilang, diganti keberingasan demi sekadar menggapai kemenangan. Politik tak lagi memiliki dimensi untuk menyejahterakan rakyat karena hanya dimaknai sempit demi memenangi kekuasaan. Politik diselewengkan dengan membenarkan segala cara untuk mencapai tujuan.

Ikhwal etika politik ini perlu kita ingatkan dan terus diingatkan lagi, terutama menjelang pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak tahun depan. Belakangan memang muncul kekhawatiran, termasuk yang disampaikan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Minggu (17/12), bahwa politik yang berjalan di Tanah Air saat ini cenderung tidak memandang etika berpolitik dan keberadaban.

Panggung politik di Indonesia hari ini dipandang Presiden ke-5 RI itu lebih diisi dengan sajian permusuhan, provokasi, dan adu kebencian. Isu SARA yang dulu tabu masuk kamar politik, kini justru kerap dimanfaatkan dengan semena-semena untuk menjatuhkan lawan politik. Tak bisa dimungkiri, wajah politik secara keseluruhan pun terlihat kian kotor.

Karena itu, rangkaian kontestasi politik besar dalam dua tahun ke depan, yakni Pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019, betul-betul akan menjadi pertaruhan, apakah politik di negeri ini akan berjalan ke arah yang lebih baik atau justru semakin kotor? Apakah etika kembali dipegang teguh sebagai landasan dalam politik demokrasi kita atau malah kian dinihilkan dan dianggap tak penting?

Tentu kita semua masih menyimpan harapan dan optimisme bahwa politik di Indonesia makin beretika sekaligus dewasa. Semua elemen bangsa ini mesti bergerak bersama mewujudkan politik yang santun, bermartabat, dan menjunjung tinggi keberadaban. Dengan sekuat tenaga kita harus mengedepankan politik yang dalam seluruh prosesnya lebih menyunggi pertarungan ide, gagasan, visi, serta inovasi ketimbang ajang menabur kebencian.

Itulah sejatinya inti dari proses negara ini berdemokrasi, yakni ketika mampu melahirkan pemimpin yang berkualitas, pemimpin yang berintegritas melalui sebuah proses politik yang beradab dan penuh etika. Proses politik yang seperti itu setidaknya akan menghindarkan kita memiliki pemimpin artifisial, palsu, pemimpin yang satu tangannya ahli memoles citra, tapi tangan lainnya bisa amat kejam dan tanpa ragu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan.

Kelewat mahal biaya pesta demokrasi, baik pilkada maupun pemilu, bila hanya menjadi arena pertempuran-pertempuran yang tak produktif dan tak menghasilkan kemaslahatan bagi rakyat. Kita mesti mengingat lagi konsep besar demokrasi bahwa kontestasi politik tak boleh hanya berhenti pada upaya meraih kekuasaan, tetapi juga menghasilkan distribusi kesejahteraan. Jadi, marilah kita mulai berpolitik dengan etika.

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/editorial/read/1246/meninggikan-etika-politik/2017-12-19

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *