Teater Korek Unisma Sukses Pentaskan “Ruang-Raung”

Bekasi. Waktu belum menunjukkan pukul 19.00 Wib, arena ruang pertunjukkan Teater Korek sudah mulai dipadati oleh calon penonton Pementasan Teater Korek di penghujung akhir tahun 2017 ini. Pementasan memang sesuai publikasi akan digelar pada pukul 19.00 Wib bertempat di Ruang publik Lab. Teater Korek Universitas Islam ’45 (Unisma) Bekasi (22/12).

Para penonton yang didominasi dari kalangan Mahasiswa, dosen tampak saling bercengkrama menunggu pintu ruang pertunjukkan mulai di buka, sebelum Gong tanda pertunjukkan mulai di tabuh. Berlokasi di pojok belakang lingkungan Kampus Unisma, dengan kondisi tempat yang seadanya Ruang Pertunjukkan di kampus Unisma sepertinya tetap menarik minat khalayak untuk datang menghadiri Pertunjukkan Teater.

Pementasan Teater KOrek kali ini mengangkat tentang kegelisahan sehari-hari yang terjadi berkaitan dengan bangunan bersejarah, Ruang Pertunjukkan, perjuangan kemerdekaan hinga menyerempet ke tuntutan sosial akan keberpihakan terhadap Geliat Kebudayaan baik dalam Lingkung Unisma, Bekasi maupun dalam konteks Nasional.

Sebuah karya yang ditetaskan dari berbagai peristiwa dan perjalanan anak-anak remaja dalam mempertahankan serta menghargai sejarah. Nantinya, adegan demi adegan bakal dipersaksikan di hadapan masyarakat sebagai penonton teater.

Arie_tog selaku Sutradara Pementasan Teater Korek menyatakan “Ruang-Raung tidak hanya diartikan sebagai ruang yang mengeluarkan amarah secara reaksioner dan emosional yang membara. Tetapi bisa juga berarti sebagai suatu protes yang dilakukan dengan menampilkan sisi spiritual dan intelektual.”

Pada pertunjukkan yang dilangsungkan di Laboratorium Teater Korek Universitas Islam “45” (Unisma) Bekasi, semalam menampilkan beberapa adegan yang bersifat mistik. Sebab, mistik atau mistisisme juga merupakan bagian dari spiritualitas yang selama ini dijalankan.

Pesannya tetap nyata, kentara ala mahasiswa. kaum muda yang menuntut akan perjuangan idealisme nya.

Pertunjukkan dengan durani 78 menit ini cukup menghipnotis para penonton yang hadir, pesan-pesan melalui pengelolaan tubuh-ruang dan benda membawa penonton dalam imaji tentang kebebasan tentang perjuangan.

Tampak pula hadir beberapa komunitas kesenian dan kebudayaan bekasi, para pekerja seni dan Tokoh Masyarakat yang peduli dengan perkembangan Teater.

Di Penghujung Acara Aru Elgete Ketua Teater Korek berharap Unisma sebagai Institusi Pendidikan Tinggi tidak meninggalkan tanggungjawabnya terhadap Kebudayaan, terhadap seni dan pertunjukkan. “Pendidikan tanpa kebudayaan hanya akan melahirkan robot-robot tanpa nilai kemanusiaan, tanpa keberpihakan terhadap peradaban”.

“Kami juga berusaha mengabarkan kepada khalayak umum, para pemangku kebijakan Daerah, Stakeholder agar menempatkan kebudayaan sebagai basis perjuangan kemanusiaan, dalam konteks memanusiakan manusia. Maka Ruang Kebudayaan itu harus diwujudkan, Ayo Bekerja!” Tutup Aru.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *