Diancam AS, RI Jangan Kendur

Indonesia harus terus berjuang dan tidak kendur menyikapi soal Palestina di Perserikatan Bangsa-Bangsa yang tadi malam membahas keputusan sepihak Presiden AS Donald Trump mengenai pengakuan Jerusalem sebagai ibu kota Israel.
“Indonesia jangan kendur, justru inilah momentum yang sangat baik untuk melakukan reformasi bagi PBB untuk menghadirkan organisasi internasional yang betul-betul adil, beradab, dan menegakkan demokrasi, prinsip hak asasi manusia, dan menghormati kesepakatan-kesepakatan internasional,” kata Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW), Kamis (21/12).

Hidayat menyampaikan hal itu menanggapi ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menghentikan bantuan terhadap negara-negara yang menolak keputusannya dalam sidang umum istimewa PBB yang diajukan negara-negara Arab. Sidang itu diagendakan Kamis (21/12) waktu setempat atau tadi malam WIB di markas besar PBB di New York, AS. Hidayat memuji pemerintah Indonesia yang secara tegas menolak keputusan sepihak Do­nald Trump dan mengajak negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) bersatu padu mengingatkan dan mengonsolidasikan diri dalam sidang istimewa PBB itu.

Draf resolusi yang menolak klaim sepihak Amerika Serikat (AS) yang mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel itu diharapkan akan lolos dengan mudah di badan dunia yang ber­anggotakan 193 orang itu. Namun, keputusan itu sendiri tidak mengikat.
Presiden Trump telah mengancam akan memotong bantuan untuk negara-negara yang memberikan suara setuju untuk draf resolusi itu. “Mereka mengambil ratusan juta dolar dan bahkan miliaran dolar, dan kemudian mereka memberikan suara menentang kita. Baik, kita akan lihat mereka yang memilih. Biarkan mereka memberikan suara menentang kita. Kita akan menghemat banyak (dana). Kami tidak peduli,” ujar Trump.

Komentar Trump muncul setelah Nikki Haley, Duta Besar AS untuk PBB, mengirim surat ancaman ke negara-negara anggota PBB, mendesak mereka untuk memberikan suara menentang mosi tersebut. Haley juga mengatakan akan mencatat nama-nama negara yang mendukung resolusi. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang paling keras mengecam AS, meminta negara-negara anggota PBB untuk tidak terpengaruh oleh ancaman Trump. “Saya mengajak seluruh dunia, jangan pernah menjual kehendak demokratis Anda dengan imbalan dolar tak seberapa,” tegasnya dalam sebuah pidato di televisi di Ankara, kemarin.

Dana militer
AS mengucurkan dana bantuan militer luar negeri hingga US$6 miliar per tahun. Negara mana saja yang paling banyak mengantongi duit perang tersebut? Menurut Deutsche Welle, Israel menjadi negara penerima terbesar sekitar US$3,1 miliar atau Rp41 triliun.
Setelah Israel secara berurutan disusul Mesir (US$1,3 miliar), Irak (US$1,2 miliar), Yordania (US$300 juta dan ditambah menjadi US$1 miliar), Pakistan (US$1 miliar), Libanon (sekitar US$75 juta), Filipina (US$50 juta).

Di Indonesia, seperti dilansir Katadata, saat ini ada dua program hibah AS yang diterima negara ini, yakni Millennium Challenge Corporation (MCC) senilai US$600 juta dan hibah dari United States Agency for International Development (USAID) dengan nilai US$500 juta.
TNI-AU mendapat bantuan pesawat tempur jenis F-16 tipe C/D dari AS. Diperkirakan, 24 pesawat tempur yang dihibahkan ke TNI-AU itu dibuat pada 1990-an dan bisa dipakai hingga 20-an tahun ke depan. (AFP/I-1)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/news/read/137540/diancam-as-ri-jangan-kendur/2017-12-22

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *