Kemenkes Yakin Prekursor bukan dari Importir

Jakarta, KENDATI selama ini prekursor yang digunakan sindikat narkoba didatangkan secara ilegal dari Tiongkok, penemuan prekursor di diskotek MG Jakarta Barat mematahkan asumsi impor prekursor ilegal selama ini.

Peracik narkotika di diskotek itu diduga mendapatkan bahan tersebut secara legal. Kejadian ini membuat aparat penegak hukum mencurigai dugaan permainan bisnis farmasi dengan sindikat narkotika. Dua perusahaan farmasi tengah diperiksa Badan Narkotika Nasional (BNN) terkait dugaan tersebut. Sayang, hasilnya hingga kini belum dipublikasikan BNN.

Belum lagi BNN merilis hasil pemeriksaannya, Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes Maura Linda Sitanggang membantah dugaan tersebut.

Menurutnya, prekursor yang ditemukan di diskotek MG, Jakarta Barat, merupakan jenis prekursor yang diizinkan melalui surat izin yang diterbitkan Kemenkes. Namun, pihaknya belum pernah menerbitkan izin impor atas prekursor jenis tersebut.

“Berdasarkan dari pemeriksaan laboratorium, prekursor itu jenis piperonal, asam Asetat Glasial, dan HCI dan jenis lain. Dan kami belum pernah menerbitkan izin surat persetujuan impor prekursor farmasi jenis ini,” tegasnya.

Maura menjelaskan izin impor prekursor diatur menteri kesehatan dan menteri perdagangan. Hal ini dituangkan dalam Peraturan Pemerintah No 44 Tahun 2010 tentang Prekursor. Bagi industri farmasi impor prekursor izinnya dikeluarkan menteri kesehatan, sedangkan nonfarmasi diatur menteri perdagangan.

“Semua diatur dengan ketat tidak bisa sembarangan. Prekursor farmasi zat atau bahan pemula yang dapat digunakan sebagai bahan baku dan produk jadi yang mengandung efedrin dan zat lain,” ungkapnya.

Dalam mekanisme impor prekursor, lanjut Maura, hanya dilakukan industri farmasi besar. Mereka sudah memiliki izin sebagai importir prekursor dari menteri kesehatan. Importir tersebut harus memiliki surat persetujuan impor (SPI) prekursor farmasi melalui proses Analisis Hasil Pengawasan dari Kepala BPOM.

“Setelah pelaksanaan impor importir wajib menyampaikan laporan realisasi penggunaan dan penyaluran prekursor farmasi setiap bulan kepada menteri kesehatan,” tandasnya.

Sementara itu, sumber Media Indonesia mengatakan bahan yang dibutuhkan untuk membuat narkotika jenis sabu mudah. Kandungan efedrin bisa didapatkan pada obat tertentu yang dijual bebas. (Sru/J-3)

Sumber : http://mediaindonesia.com/news/read/138973/kemenkes-yakin-prekursor-bukan-dari-importir/2018-01-03

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *