Merawat Pesan Toleransi dari Gus Dur

”Pa… setelah kau pergi/Baru aku mengerti
Selama ini kau berusaha mengajari kami
Hidup harus disyukuri/Apapun yang diberi
Engkaulah yang mengajarkan/
Hidup adalah pilihan
Dan pilihan adalah kekuatan….”

Cuplikan puisi itu dibacakan Inayah Wulandari Wahid, putri bungsu KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, di salah satu sudut Kota Bandar Lampung, Lampung, Sabtu (6/1). Lebih dari 50 orang hanyut dalam haru menyimak puisi saat acara peringatan delapan tahun wafatnya Gus Dur.

Sebagian orang mengusap air mata, menahan kerinduan pada sosok Gus Dur. Bulu roma ikut menggeriap seiring embusan napas.

Tak ada sekat. Umat lintas agama; Islam, Kristen, dan Hindu, duduk berdampingan. Mereka memanjatkan doa untuk Presiden keempat Republik Indonesia tersebut.

Hasil kebun berupa kopi dan keripik singkong menjadi pelengkap acara yang dikemas sederhana di halaman Rumah Ideologi Klasika, salah satu kelompok diskusi pemuda di Bandar Lampung.

Gus Dur memang memiliki tempat tersendiri di ingatan masyarakat Indonesia, termasuk di kalangan pemuda yang belum pernah bertemu dengannya. Meski Gus Dur telah meninggal sewindu silam, tepatnya pada 30 Desember 2009, mereka tetap setia merawat toleransi yang diajarkan Gus Dur.

Inayah Wulandar, putri bungsu Gus Dur.

Maka, dialog sore itu tak ayal menjadi oase bagi kaum muda yang merindukan pemikiran Gus Dur. Terlebih lagi, acara bertajuk ”Menanam dan Menjaga Toleransi Antarumat Beragama” itu dihadiri anak kandung Gus Dur.

”Tidak mudah menemukan sosok seperti Gus Dur saat ini. Pemimpin yang menanamkan toleransi dan cinta kasih kepada sesama,” kata Ayu Mega Sari (26) yang larut dalam haru.

Tidak mudah menemukan sosok seperti Gus Dur saat ini. Pemimpin yang menanamkan toleransi dan cinta kasih kepada sesama.

Perempuan yang baru tiga bulan menetap di Lampung itu menempuh jarak sekitar 10 kilometer dari rumahnya untuk datang ke acara tersebut. Saat Gus Dur menjabat presiden, Ayu masih duduk di sekolah dasar. Dia lebih banyak mengenal bapak bangsa itu lewat televisi atau cerita dari orangtua dan neneknya.

Demikian pula bagi Agung Nugroho dari Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Kota Bandar Lampung mengatakan, Gus Dur mengajarkan tentang pentingnya saling menghargai antarumat beragama. ”Tak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu,” demikian nasihat Gus Dur yang Agung ingat.

Membuat pilihan

Adapun hal yang paling diingat oleh Inayah, bapaknya selalu mengajarkan bahwa hidup adalah pilihan. Semasa hidupnya, Gus Dur memilih membela kemanusiaan. Ia tak hanya mengajarkan toleransi, tetapi juga memperjuangkan keadilan dan menanam cinta kasih kepada sesama. Itulah yang membuat sosok Gus Dur amat dicintai hingga kini.

”Maka, kalau kita benar-benar ingin meneladani Gus Dur, yang harus kita lakukan adalah membuat pilihan. Jadilah manusia,” kata Inayah.

Manusia yang dimaksud Gus Dur adalah manusia yang memanusiakan manusia. Caranya, dengan menyadari kehadiran orang lain yang berbeda suku, agama, dan ras di sekitar kita. Dengan begitu, kita akan saling menghormati dan tidak memaksakan kehendak.

Itulah yang dilakukan Gus Dur. Semasa hidupnya, tidak pernah meminta orang lain untuk mengikuti caranya. Dia tidak pernah ingin mengubah orang lain menjadi seperti dia.

Sayangnya, kata Inayah, banyak orang lupa bahwa Indonesia dihuni oleh berbagai etnis dan agama. Justru ada kelompok yang ingin merusak kebinekaan Tanah Air. Salah satunya dengan cara menyebarkan sentimen beragama yang mengganggu kenyamanan antarumat.

Untuk menepis hal itu, ada banyak pilihan sederhana yang bisa dilakukan pemuda demi menjaga NKRI. Salah satunya dengan tidak menyebarkan ujaran kebencian melalui media sosial.

”Ketika ada pesan berantai yang mengandung ujaran kebencian sampai di gawai kita, ada pilihan untuk tidak menyebarkannya. Itu mungkin sepele, tetapi dampaknya besar,” ujar Inayah.

Dia yakin, masih banyak orang-orang baik yang tidak rela negaranya tercerai-berai akibat provokasi soal perbedaan. Insiden sentimen beragama di Aceh, Papua, dan Jakarta yang hingga terbawa hingga ranah politik rasanya sudah cukup menjadi catatan kelam toleransi di Indonesia.

Kini, saatnya pemuda merajut dan merawat kembali toleransi yang diajarkan oleh Gus Dur. Karena, pilihan menjadi bangsa yang beragam sesungguhnya adalah kekuatan bangsa ini. Menurut Inayah, terlalu sayang jika energi kaum muda hanya dihabiskan untuk menebar kebencian dan bertengkar di media soal. Padahal, masih banyak masalah bangsa yang lebih nyata dan butuh penyelesaian. (VIO)

Sumber : kompas.id

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *