KOMPAS/ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Poster berjudul “Planting-seed” karya Alit Ambara dipajang kembali dalam Pameran Tanda Mata di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (12/1). Poster “Planting-seed” dikoleksi Bentara Budaya setelah Alit menggelar Pameran Tunggal Poster karya Nobodycorp International Unlimited “POSTERAKSI” di Bentara Budaya Yogyakarta, 16-24 Oktober 2013.

Dua tahun terakhir, Bentara Budaya rutin memamerkan kembali koleksi-koleksinya kepada publik. Meski terlindas guliran waktu, karya-karya para perupa tetap memancarkan makna dan pesan yang selalu aktual.

”…Jika kami bunga/Engkau adalah tembok itu/Tapi di tubuh tembok itu/Telah kami sebar biji-biji/Suatu saat kami akan tumbuh bersama/Dengan keyakinan engkau harus hancur! Dalam keyakinan kami/Di manapun tirani harus tumbang!” (Wiji Thukul 1987)

Alit Ambara, seniman Yogyakarta, dengan posternya berjudul ”Planting-seed” berukuran 42 cm x 60 cm (2013) seperti menghadirkan kembali aktivis Wiji Thukul dari dunia lain yang selama ini merenggutnya. Sampai sekarang, penyair Solo itu tak diketahui keberadaannya. Namun, syair perlawanannya tetap abadi.

Kekekalan syair-syair Wiji Thukul digambarkan Alit dengan cerdik. Dalam poster berlatar belakang merah itu, sosok Wiji berbaju hitam tampak sedang menanam bibit pohon. Seperti semangatnya yang tak pernah redup, biji-biji itu akan terus tumbuh menghancurkan tembok-tembok penindasan dan menumbangkan tirani.

Lukisan satire politik juga ditampilkan perupa Yogyakarta, Harun, dengan karyanya berjudul ”Republik Mimpi” berukuran 180 cm x 140 cm dengan media akrilik di atas kertas (2016). Lukisan ini menggambarkan deretan politisi berpakaian jas dan kebaya tetapi semuanya bermuka awan. Di bagian belakangnya tampak peta Indonesia yang pulau-pulaunya dipahat di dinding batu bata.

Seperti judulnya, ”Republik Mimpi”, Harun melukis wajah elite politik dengan awan. Ia hendak mengatakan bahwa apa yang ada dalam pikiran pejabat- pejabat negara itu mengawang- awang sehingga republik yang mereka pimpin pun hanyalah republik mimpi.

Lebih memprihatinkan lagi, negara yang mereka abdi digambarkan telantar. Gugusan pulau Nusantara itu terbentuk dari susunan batu bata dari tembok dinding yang terkelupas.

Poster ”Planting-seed” dikoleksi Bentara Budaya setelah Alit menggelar Pameran Tunggal Poster karya Nobodycorp International Unlimited ”POSTERAKSI” di Bentara Budaya Yogyakarta, 16-24 Oktober 2013. Sementara lukisan Harun dikoleksi Bentara Budaya setelah ia menggelar pameran tunggal ”Uniform” 23-30 Agustus 2016 di Bentara Budaya Yogyakarta.

”Kedua karya ini dipamerkan bersama 26 karya lain di Galeri Sisi Bentara Budaya Jakarta, 9 Januari-9 Maret 2018, dalam pameran bertajuk ’Tanda Mata’. Lukisan-lukisan yang dipamerkan beragam, mulai dari bercorak realis, surealis, hingga abstrak dengan tema bermacam- macam,” ujar Kepala Bentara Budaya Jakarta Ika W Burhan, Jumat (12/1), di Jakarta.

Setiap kali menggelar pameran di Bentara Budaya Yogyakarta, para perupa memiliki tradisi unik, yaitu menyumbangkan salah satu karyanya kepada Bentara Budaya. Namun, jauh sebelum Bentara Budaya didirikan pada 1982, harian Kompas memang sudah rutin mengoleksi karya-karya seni dari para perupa di seluruh Indonesia.

Sampai saat ini, koleksi Bentara Budaya meliputi 794 lukisan; 1.188 keramik berupa gerabah, patung gerabah, celengan gerabah, gentong, piring, dan tempayan; 447 koleksi benda kayu, terdiri dari patung, ukiran, dan panel Papua; 136 furnitur antik; 118 wayang golek Asep Sunarya; 212 wayang kulit; 150 wayang rumput; dan 29 patung batu Buddha. Beberapa koleksi lukisan merupakan karya dari para maestro, seperti Affandi, Hendra Gunawan, S Sudjojono, dan Basoeki Abdullah.

Koleksi lukisan Bali

Kurator Bentara Budaya, Ipong Purnama Sidhi, mengungkapkan, tiga orang yang aktif mengumpulkan koleksi benda- benda seni Bentara Budaya adalah pendiri harian Kompas, almarhum PK Ojong; kartunis yang juga perintis dan Direktur Eksekutif Bentara Budaya 1986-1999 GM Sudarta; dan mantan wartawan Kompas, Rudy Badil. Menurut Ipong, dari semua koleksi Bentara Budaya, yang patut dibanggakan dan tergolong monumental adalah karya-karya pelukis besar Bali.

”Pada tahun 1970-an, Pak Ojong bersama GM Sudarta keliling Bali menjumpai langsung para pelukis, memberikan peralatan dan bahan melukis, seperti kanvas, tinta, cat akrilik, dan tinta china,” katanya.

Dari kontak langsung secara personal itulah, PK Ojong mengumpulkan karya-karya pelukis Bali yang pada masa itu berada di puncak kejayaan, seperti I Gusti Nyoman Lempad, Ida Bagus Made Poleng, Anak Agung Gde Sobrat, Wayan Turun, I Gusti Ketut Kobot, dan Made Djata.

”Lukisan pertama yang dibeli Kompas dan kemudian menjadi koleksi Bentara Budaya adalah ’Vas Bunga’ karya Popo Iskandar,” ujar GM Sudarta. (ABK)

Sumber : kompas.id