Infiltrasi Nekat ke Irian Barat

Jakarta, Siaran Radio Australia Selasa petang itu menyiarkan berita yang mengejutkan: malam tadi (Senin, 15 Januari 1962) sebuah kapal cepat torpedo milik ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) berhasil dihancurkan oleh kapal perang Marinir Belanda. Melansir dari DPA (Kantor Berita Belanda) disebutkan dalam pertempuran laut itu, Marinir Belanda berhasil menawan sekira 50 prajurit Indonesia.

“…kapal-kapal perang Belanda mulai menembak pada suatu formasi kapal-kapal Indonesia yang sedang bergerak di perairan territorial Belanda, di arah selatan pantai Irian,” demikian laporan Radio Australia pada 16 Januari 1962.

Sudomo menyatakan bahwa insiden itu terjadi saat KRI Harimau, KRI Matjan Tutul dan KRI Matjan Kumbang milik ALRI tengah melakukan upaya infiltrasi ke daratan Irian. “Kami membawa para sukarelawan dan unsur-unsur dari Angkatan Darat untuk diselusupkan ke Irian,” ujar pimpinan operasi infiltrasi itu dalam Laksamana Sudomo: Mengatasi Gelombang Kehidupan karya Julius Pour.

Banyak kalangan kemudian menyebut operasi itu sebagai upaya nekat. Hal itu seperti dilontarkan oleh Laksamana Pertama (Purn.) Eddy Tumengkol kepada Historia beberapa waktu lalu. “Lha semua kapal cepat itu kan bergerak tanpa torpedo dan dukungan udara,” ujar sesepuh penerbang Angkatan Laut itu.

Soal ketidaklengkapan kapal-kapal cepat buatan Jerman Barat tersebut diamini sendiri oleh Sudomo. Saat dibeli, tabung torpedo kapal-kapal cepat itu memang dalam keadaan kosong. Itu terjadi karena sebagai negara yang kalah dalam Perang Dunia II, Jerman Barat terkena kebijakan internasional dalam hal pembatasan memproduksi peralatan perang. Awalnya, ALRI akan menyiasati soal tersebut dengan membeli torpedo ke Inggris.

“Sayangnya, setelah konflik Irian Barat semakin panas, pemerintah Inggris justru memberlakukan larangan pengiriman senjata strategis, termasuk torpedo, terhadap Indonesia,” ungkap Sudomo. Jadilah kapal-kapal cepat itu hanya diperkuat senjata-senjata penangkis serangan udara yang sejatinya sudah sangat tua. Senjata-senjata itu terdiri dari dua meriam 40 mm Bofors dan dua 12,7 mm.

Sidhoparomo, masih ingat bagaimana awal terjadinya malapetaka pada malam itu. Saat memasuki Laut Arafuru, situasi gelap gulita. Bintang-bintang dan bulan sama sekali tak nampak. “Kami semua memandang tajam ke arah radar,” ujar Komandan KRI Matjan Kumbang tersebut.

Tanpa disadari, sejak pukul 20.25, pergerakan mereka sudah dipantau oleh pesawat Neptune yang diawaki seorang pilot Angkatan Laut Belanda keturunan Jawa. Namanya Letnan H. Moekardanoe. Setelah memastikan posisi ketiga kapal cepat itu, Moekardanoe lantas mengirimkan tanda bahaya dini kepada tiga kapal perang Belanda (Hr. Ms. Eversten, Hr.Ms. Kortenaer dan Hr. Ms. Utrecht) yang juga sedang berpatroli di sekitar tempat tersebut.

Sekira satu jam kemudian, Neptune mulai menyerang. Bersamaan dengan serangan tersebut, muncul satu fregat dari arah lambung kanan dan sebuah kapal perusak serta sebuah fregat dari arah lambung kiri kapal-kapal cepat itu. Pertempuran tak seimbang pun tak terelakan.

Salah satu saksi sekaligus pelaku pertempuran itu adalah Junias Rapamy. Di malam itu, secara tiba-tiba Junias menyaksikan nyala kembang api menerangi haluan KRI Macan Tutul. Para prajurit dan kelasi berteriak-teriak panik. Rupanya kembang api itu disebabkan oleh tembakan pesawat Belanda jenis Neptune yang terbang di atas mereka setinggi kira-kira 3000 kaki dari permukaan laut. Sejurus kemudian pesawat itu hilang dari pandangan.

”Saya bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya…” kenang sukarelawan Irian pro Indonesia itu.

Belum selesai Junias berpikir, beberapa menit kemudian tiba-tiba deru suara pesawat itu kembali meraung diatas KRI Matjan Tutul. Pesawat itu lagi-lagi melontarkan bom ke arah rombongan kapal cepat itu. Air laut menyembur tinggi di kanan-kiri Matjan Tutul. Warna merah api dan asap hitam panjang terlihat dalam air laut.

Pesawat terbang itu kemudian menghilang lagi. Namun suara tembakan dan bom bertubi-tubi menghujani posisi KRI Macan Tutul. Kali ini dari kapal-kapal perang Belanda yang telah berada di sekitar mereka. Sambil memegang senjata, Junias mengambil posisi tiarap di bawah meriam kanan dekat pintu kamar mesin. Dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan desing peluru yang ditembakkan kapal musuh ke arah mereka.

Blummm! Tembakan pertama musuh menghantam meriam depan KRI Matjan Tutul. Meriam itu tumbang, disusul oleh lontaran dasyat peluru meriam kedua musuh mengenai tiang radar hingga tumbang ke laut. Peluru meriam musuh ketiga mengenai dapur (tengah) kapal menjadi pecah mengeluarkan api dan asap hitam menutupi kapal dari depan sampai ke belakang. Peluruh musuh yang keempat mengenai mesin diesel (listrik) dan mematikan semua aliran listrik. Peluru musuh kelima menghancurkan anjungan dan alat komunikasi (PHB). Situasi di atas KRI Matjan Tutul kian kacau: jeritan dan teriakan saling bersahutan. Kemudian tiba-tiba tembakan-tembakan itu terhenti.

”Mungkin mereka sedang mengamati situasi yang terjadi setelah tembakan terjadi…” kenang Junias seperti diungkapkan dalam Sekelumit Kisah Junias Rapamy, Awak KRI matjan Tutul yang Selamat dalam Pertempuran Laut Aru karya Taufik Abriansyah.

Melihat situasi yang sangat genting itu, dan untuk mengurangi kerugian korban, Komodor Laut Jos Soedarso yang berada di KRI Matjan Tutul mengambil alih komando. Beliau langsung memerintahkan KRI Harimau dan KRI Matjan Kumbang yang berada dalam formasi untuk segera menghilang dan mundur ke Posko 001 di Ujir Dobo. (Bersambung)

Sumber : historia.id

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *