Berdasarkan pantauan, sekitar pukul 12.00, sebagian genteng di bagian utara Gedung C tampak rontok. Asap masih mengepul tipis. Bau gosong tercium cukup kuat dan membuat mata pedih.

Semprotan air dari petugas pemadam kebakaran menyembur melalui atap gedung bagian utara yang sudah bolong. Di antara atap bolong itu terlihat aluminium yang tampak bengkok dan sebagian warnanya menghitam.

Genteng-genteng yang rontok itu pecah di pelataran antara Gedung C dan A. Pecahan genteng tersebar secara acak dengan pecahan kayu gosong di antara genangan air setinggi 20 cm di pelataran itu.

NINO CITRA ANUGRAHANTO UNTUK KOMPAS

Gedung C yang terbakar di Museum Bahari dilihat dari belakang di Jakarta Utara, Selasa (16/1).

Penyebab kebakaran masih belum bisa ditemukan. Kepala Kepolisian Metropolitan Jakarta Utara Komisaris Besar Reza Arif Dewanto mengatakan, kasus kebakaran itu masih dalam tahap penyelidikan. Polres Metro Jakarta Utara dibantu Pusat Laboraturium Forensik Badan Reserse Kriminal Polri dalam menginvestigasi.

Sekitar pukul 10.00, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meninjau lokasi kebakaran. Ia didampingi Wali Kota Jakarta Utara Husein Murad, Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta Subejo, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Tinia Budianti, dan Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Kebaharian Husnizon Nizar.

Anies mengatakan, renovasi museum itu akan dilakukan secara menyeluruh. Hal yang paling penting baginya adalah mengamankan semua koleksi yang ada dan sebisa mungkin menyelamatkannya.

NINO CITRA ANUGRAHANTO UNTUK KOMPAS

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

”Yang penting, saat ini mengisolasi tempat ini dari orang-orang yang tidak berkepentingan. Kita harus mengamankan semua koleksi yang ada di sini. Jadi, hanya yang berkepentingan yang boleh masuk,” kata Anies.

”Barang-barang ini memiliki nilai sejarah. Jadi, jika ditanya berapa kerugiannya, itu tidak bisa karena barang-barang ini memiliki nilai sejarah. Barang-barang seperti ini priceless, tidak bisa dinilai dengan rupiah,” ujarnya.

NINO CITRA ANUGRAHANTO UNTUK KOMPAS

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Tinia Budianti.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Kebaharian Husnizon Nizar mengatakan belum bisa mengetahui seberapa banyak barang yang rusak terbakar. Pihaknya masih perlu melakukan pendataan. Namun, ia memberi tahu, barang-barang yang berada di gedung yang terbakar itu adalah alat-alat navigasi, replika dan miniatur perahu, serta pameran peperangan Laut Jawa.

Terkait soal antisipasi, Anies mengatakan semalam sebelumnya telah membahas mitigasi dan penanggulangan bencana di tempat-tempat cagar budaya bersama Dinas Pariwisata dan DKI Jakarta. ”Ini di-review semua tempat-tempat yang ada risiko. Disiapkan mitigasi dan alat-alatnya,” kata Anies.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tinia Budianti mengatakan, dalam menangani kasus kebakaran itu, Tim Ahli Cagar Budaya juga dilibatkan. Hal tersebut menjadi penting karena perlunya penanganan khusus terhadap bangunan cagar budaya.

Kendala pemadaman dan rekonstruksi

Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Subejo mengatakan, kesulitan yang dialami tim pemadam kebakaran siang itu adalah adanya pelapis genting berupa aluminium. ”Di lantai dua itu ada aluminium yang cukup tebal sebelum genteng. Itu menyulitkan penyebaran air ke bawah untuk pemadaman,” kata Subejo.

Kepala UPT Museum Kebaharian Husnizon Nizar menjelaskan, sebenarnya aluminium itu dijadikan pelapis di bawah genteng untuk mencegah terjadinya kebocoran ketika hujan. Tujuannya agar air hujan itu tidak menembus sela-sela genteng dan masuk ke dalam gedung.

NINO CITRA ANUGRAHANTO UNTUK KOMPAS

Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta Subejo.

Namun, penggunaan aluminium itu kurang disetujui Ketua Tim Sidang Pemugaran DKI Jakarta Bambang Eryudhawan. Bagi Bambang, sebaiknya atap dibiarkan bernapas dengan diberi sela. Terbukti penggunaan aluminium itu telah mempersulit pemadaman api. Bambang menyarankan agar penggunaan aluminium sebagai atap di bangunan cagar budaya lain itu untuk dihindari.

”Bukannya tidak boleh, melainkan perlu kehati-hatian. Bangunan ini seperti lansia dan tampak rapuh,” kata Bambang.

Ia menyatakan, hal yang saat ini perlu dilakukan adalah mengidentifikasi kerusakan. Setelah itu, mengumpulkan dokumen berupa gambar-gambar gedung untuk merencanakan rekonstruksi. ”Rekonstruksi dengan menambahkan aspek keandalan bangunan, yaitu keselamatan, kenyamanan, kesehatan, dan kekuatan, agar hal seperti ini tidak terjadi lagi,” kata Bambang.

NINO CITRA ANUGRAHANTO UNTUK KOMPAS

Ketua Tim Sidang Pemugaran DKI Jakarta Bambang Eryudhawan.

Dalam merekonstruksi bangunan nanti, hal yang terpenting bagi Bambang adalah bentuk gedung kembali seperti semula. Terkait bahannya, bagi dia, itu bisa menyesuaikan.

”Dikembalikan seperti semula. Yang penting bentuk tetap terjaga,” kata Bambang. ”Bahan kalau kayu tidak ada lagi, ya kita cari alternatif. Tetapi, tampilan secara kasatmata setidaknya utuh.”

Korsleting listrik dan mitigasi

Untuk sementara waktu, Husnizon menduga kebakaran terjadi akibat korsleting listrik. Ia menambahkan, terakhir kali instalasi listrik bangunan itu diperbaiki sekitar 2013. Menurut rencana, tahun ini hal-hal menyoal instalasi listrik itu baru akan diperbaiki, tetapi sudah didahului kebakaran.

”Terkait kondisi instalasi listrik, kami sudah mencanangkan. Anggarannya enggak sampai Rp 1 miliar, sekitar Rp 800 juta untuk tahun ini,” kata Husnizon.

Mengingat bangunan itu sebagian besar terdiri atas kayu, terutama lantainya, hal itu mempersulit pemadaman kebakaran secara dini. ”Saat saya dengar ada kebakaran, saya langsung mengecek. Itu sudah asap semua. Ini kan bahannya kayu jati sehingga jika terbakar itu asapnya sangat tebal. Lalu, kita langsung memanggil pemadam kebakaran,” kata Husnizon.

NINO CITRA ANUGRAHANTO UNTUK KOMPAS

Kepala UPT Museum Kebaharian Husnizon Nizar.

Husnizon menyatakan, museum itu pernah mengalami beberapa kali kebakaran kecil. Akan tetapi, masih bisa ditangani. Kebakaran sebesar ini baru terjadi pertama kali.

Terkait mitigasi kebakaran, Husnizon mengatakan, setiap ruangan di museum itu terdapat dua alat pemadam kebakaran. Alat-alat itu pun tergolong baru mengingat November 2017 gedung itu baru selesai dipugar secara fisik.

Petugas keamanan dan kebersihan pun dijamin bisa menggunakan alat pemadam kebakaran itu. ”Sebelum mendapatkan alat pemadam kebakaran ini, setiap petugas keamanan dan cleaning service dapat pelatihan dulu dari petugas pemadam kebakaran. Hanya saja kebakaran kali ini memang benar-benar besar,” kata Husnizon.

Satu PPSU terluka

Satu petugas penanganan sarana dan prasarana umum dari Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara, terluka saat sedang membantu membersihkan lokasi kebakaran di Museum Bahari. Bagus (25) tertimpa balok kayu saat hendak keluar dari Gedung A.

Lurah Penjaringan Depika Romadi mengatakan, awalnya memang ada instruksi untuk membantu pembersihan lokasi kebakaran. ”Perintah kami itu untuk bersih-bersih di bagian luar. Kami tidak meminta mereka masuk ke gedung-gedung yang sedang ditangani petugas pemadam kebakaran,” kata Depika.

NINO CITRA ANUGRAHANTO UNTUK KOMPAS

Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api dengan memanjat Gedung C di Museum Bahari, Jakarta Utara, Selasa (16/1).

Faisal (26), rekan Bagus, membenarkan hal itu. Ia bersama keenam temannya, termasuk Bagus, memasuki Gedung A atas inisiatif pribadi.

”Kami berniat bantu-bantu saja. Maka, kami ikut masuk. Barangkali bisa bergantian menyemprot air dengan petugas pemadam,” ujar Faisal.

Namun, ketika memasuki gedung, Faisal menceritakan, petugas pemadam meminta mereka membantu dari luar saja.

Hal itu disebabkan ada sejumlah bagian bangunan yang menjadi rapuh akibat terbakar, sedangkan mereka tidak memakai helm untuk perlindungan diri. Mereka pun memutuskan keluar.

NINO CITRA ANUGRAHANTO UNTUK KOMPAS

Petugas memadamkan api dengan memanjat Gedung A di Museum Bahari, Jakarta Utara, Selasa (16/1).

Dalam perjalanan keluar, tiba-tiba sebuah balok selebar 15 cm dengan panjang 2 meter menimpa kepala Bagus. Ia pun terjatuh dan mengeluh kepalanya pusing.

Saat dibantu berdiri, Bagus tiba-tiba bersin dan hidungnya mengeluarkan darah. Ia langsung tak sadarkan diri dan dibantu digotong keluar oleh petugas pemadam kebakaran dan teman-temannya.

Bagus pun dilarikan ke Rumah Sakit Pluit, Jakarta Utara, menggunakan mobil ambulans milik pemadam kebakaran. Depika mengatakan, biaya perawatan Bagus ditanggung menggunakan biaya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.

Selain Bagus, ada satu lagi petugas penanganan sarana dan prasarana umum dari Penjaringan yang terkena bata saat hendak keluar dari gedung, yaitu Usmadi (47). Akan tetapi, Usmadi tidak terluka. ”Tiba-tiba batu bata jatuh di kepala saya. Beruntung kepala saya tertutup jaket dan topi, jadi tidak terlalu sakit,” kata Usmadi.

Siang itu, ada sekitar 100 petugas penanganan sarana dan prasarana umum dari kecamatan yang dikerahkan untuk membersihkan lokasi kebakaran dari luar gedung. (DD16)

Sumber : Kompas.id