KOMPAS/ANGGER PUTRANTO

Satrah (87) dituntun bidan Dayu Ummu Kholisyah (44) yang berkunjung ke rumahnya di Kertosari, Banyuwangi, Senin (15/1).

Satrah (87) berupaya sekuat tenaga merangkak ke pintu menyambut tamunya. Ia berusaha mencari kunci, tetapi tak juga menemukan. Satrah yang lumpuh ini sudah 30 tahun tidak dapat melihat.

Beruntung tetangganya tahu letak kunci disimpan. Ia pun merogoh ke dalam dan pintu pun terbuka. Wajah Satrah semringah ketika mendengar sapaan dan salam dari Dayu Ummu Kholisyah (44).

Dayu adalah bidan di Puskesmas Kertosari, Banyuwangi, yang berjarak kurang dari 1 kilometer dari rumah Satrah. Senin (15/1) itu bukanlah pertemuan pertama mereka. Satu tahun terakhir, Dayu secara rutin berkunjung ke rumah Satrah.

Setiap kunjungan, Dayu memeriksa tekanan darah dan denyut jantung Satrah. Dayu juga dengan telaten menyuplai makanan dan minuman bagi Satrah yang tinggal sendirian itu.

”Ibu Satrah sudah lama tidak bisa melihat karena terserang glaukoma. Beberapa kali pemeriksaan, tekanan darahnya selalu rendah, asupan gizi juga kurang. Bu Satrah kerap demam, mungkin kurang minum,” tutur Dayu.

KOMPAS/ANGGER PUTRANTO

Bidan Dayu Ummu Kholisyah (44) mengunjungi dan memeriksa kesehatan Satrah (87) di rumahnya di Kertosari, Banyuwangi, Senin (15/1). Sejak 2014, Puskesmas Kertosari memiliki program Gerakan Tanggap Aksi Cepat yang merupakan upaya jemput bola bagi masyarakat risiko tinggi.

Dayu merawat Satrah seperti merawat ibunya sendiri. ”Ibu ngersakke nopo? Badhe dimasakke nopo? Kacang ijo nopo bubur (Ibu menginginkan apa? Mau dimasakkan apa? Kacang hijau atau bubur),” tanya Dayu.

Dengan suara terbata-bata, Satrah menjawab, ”Terserah, opo wae aku doyan (apa saja saya mau).”

Apa yang dilakukan Dayu merupakan bagian dari program Gertac, Gerakan Tepat Aksi Cepat Puskesmas Kertosari. ”Inovasi ini merupakan upaya jemput bola dengan menyasar warga miskin dengan risiko tinggi. Melalui Gertac, warga yang tidak bisa mengakses layanan puskesmas tetap mendapat perhatian,” kata Kepala Puskesmas Kertosari Wahyu Primawati.

Inovasi ini merupakan upaya jemput bola dengan menyasar warga miskin dengan risiko tinggi.

Dalam program ini, kader kesehatan, ketua RT/RW, dan lurah disatukan dalam sebuah grup percakapan instan WhatsApp. Melalui grup percakapan itu, anggota grup dapat melapor kepada petugas puskesmas jika mengetahui ada warga yang sakit dan tak bisa mengakses puskesmas. Wahyu menjamin kurang dari 1 jam petugas puskesmas akan berkunjung ke rumah warga. Apabila diperlukan perawatan lebih lanjut, petugas siap merujuk warga ke puskesmas atau langsung ke rumah sakit.

Aplikasi daring

Untuk memudahkan pasien puskesmas mengambil nomor antrean, Pemerintah Kota Surabaya menerapkan aplikasi daring eHealth sejak 2015. Dalam aplikasi yang bisa diakses dari gawai itu, pasien bisa mendaftar untuk mengambil nomor antrean tanpa harus ke puskesmas terlebih dahulu. Pasien bisa memilih tanggal hingga sebulan sebelum jadwal ke puskesmas.

”Sekarang tidak perlu lagi mengantre. Di eHealth, nomor antrean sudah tertulis estimasi jam kedatangan pasien,” kata Kepala Dinas Kesehatan Surabaya Febria Rachmanita, Jumat (12/1), di Surabaya.

Aplikasi ini bisa digunakan untuk mendaftar antrean di 63 puskesmas serta di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Soewandhie dan RSUD Bhakti Dharma Husada. Warga Surabaya dan luar Surabaya bisa menggunakan aplikasi ini. Pilihan bahasa yang tersedia, yakni bahasa Indonesia, bahasa Jawa, dan bahasa Madura, mengakomodasi penduduk yang ada di Surabaya.

Kepala Puskesmas Kenjeran Esti Sriwuri mengatakan, sekitar 60 persen pasien mengantre menggunakan eHealth. Penggunaan aplikasi ini mengurangi waktu tunggu dan mempercepat proses pemeriksaan. ”Petugas kami bisa langsung mempersiapkan data rekam medis jika sebelumnya tahu identitas pasien yang datang,” ujarnya.

Sudirman (48), pasien di Puskesmas Kenjeran, mengatakan sangat terbantu oleh aplikasi ini. ”Kalau sedang sepi, paling lama hanya butuh waktu 30 menit dari datang hingga selesai pemeriksaan. Dulu, waktu ambil antrean bisa dua jam,” katanya.

Lain lagi yang dilakukan Puskesmas Induk Bandarharjo di Semarang. Ruang di puskesmas yang dahulu kusam, kumuh, sering ada bangkai tikus, dan kerap direndam limpasan air laut kini bersih dan nyaman.

Noviantini (29), pasien dengan penyakit tuberkulosis (TB) paru, pun tak merasa jenuh menunggu lama karena mendapat nomor antrean ke-89. Setelah menunggu sekitar 2 jam, dia baru dipanggil. Dia diperiksa selama sekitar 10 menit. ”Nunggu emang bikin lapar, tetapi tidak masalah karena ruang tunggu sekarang nyaman,” kata Novi yang sudah enam bulan mengidap TB paru.

Dua tahun lalu, puskesmas di Jalan Raya Cumi-cumi, Kelurahan Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara, ini memprihatinkan. Terletak di tepi sungai dan hanya berjarak 1 kilometer dari pantai utara, hampir setiap hari kawasan ini digenangi rob.

Di genangan, tak jarang ditemukan bangkai tikus. Bau busuk menyeruak dari saluran pembuangan mandi, cuci, kakus. Selain itu, puskesmas hanya punya dua ruang pemeriksaan sehingga daya tampung pasien terbatas.

Sejak tahun 2015, fasilitas di puskesmas ini hampir menyerupai rumah sakit umum daerah. Lokasi puskesmas dipindah ke gedung puskesmas pembantu yang sudah direnovasi berjarak sekitar 2 kilometer. Fasilitas yang tersedia antara lain ruang periksa pasien lansia, ibu dan anak, periksa gigi, imunisasi, laboratorium, dan apotek.

Puskesmas Bandarharjo pun kini menjadi tumpuan warga sekitar untuk mendapatkan layanan kesehatan. Mereka rela datang ke puskesmas sejak pukul 06.00 untuk mengambil nomor antrean. Pasien biasanya berinisiatif menumpuk KTP atau identitas lain di meja loket karena pendaftaran baru dibuka pukul 07.00. Hal itu juga dilakukan Novi sebelum mengantar anaknya ke sekolah.

Beragam inovasi dan perbaikan layanan puskesmas membuat masyarakat menengah ke bawah tak lagi merasa ditinggalkan dalam mengakses layanan kesehatan. Mereka mendapat layanan kesehatan yang baik dan berkualitas. (Iqbal Basyari/Karina isna Irawan).

Sumber : Kompas.id