YOGYAKARTA,  — Praktisi pendidikan sepakat perguruan tinggi perlu lebih inovatif dalam menyusun sistem pembelajaran untuk meningkatkan daya saing bangsa. Revolusi industri generasi keempat yang terjadi saat ini perlu ditunjang dengan perbaikan infrastruktur perguruan tinggi, salah satunya perekrutan dan manajemen dosen.

Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta Edy Suandi Hamid menilai, dalam era perubahan yang serba cepat, kurikulum perkuliahan seharusnya tidak mengekang pemikiran dan gagasan pelajar. Untuk itu, perguruan tinggi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

”Sekarang sudah eranya inovasi disruptif. Perekrutan dan manajemen dosen yang relevan dengan perkembangan zaman. Tidak bisa kita mengharapkan lahir mahasiswa yang inovatif, sementara dosen masih berparadigma lama,” ujar Edy di Yogyakarta, Senin (22/1).

Edy mendukung ide penyesuaian kurikulum yang digagas Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir dalam rapat kerja nasional Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tahun 2018 di Universitas Sumatera Utara, Medan, pekan lalu (Kompas, 18/1).

Meski Kemristek dan Dikti belum mengeluarkan petunjuk teknis soal pelaksanaan reorientasi kurikulum pembelajaran, kata Edy, pimpinan perguruan tinggi mulai dari rektor hingga kepala program studi dapat melakukan penyesuaian kurikulum di ranah mereka masing-masing.

Edy yang pernah menjabat Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (2011- 2015) menambahkan, salah satu hal yang dapat dilakukan pimpinan perguruan tinggi adalah merekrut dosen yang mampu merangsang siswa memunculkan gagasan dan pemikirannya.

Berbasis sosial

Adapun Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fisipol UGM Wawan Masudi menilai, perguruan tinggi harus mampu menyesuaikan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pihaknya telah mengupayakan hal itu dengan melakukan kegiatan pembelajaran yang memicu ekosistem sociopreneurship (membangun usaha berbasis sosial) berbasis teknologi informasi.

”Kurikulum pembelajaran harus disesuaikan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam bidang internet of things, dan big data analytic karena saat ini penggunaan teknologi informasi, seperti big data dan kecerdasan buatan, sangat menonjol,” kata Wawan.

Jumat lalu, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir, seusai membawakan orasi ilmiah dalam rangkaian Dies Natalis ke-63 Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, Jawa Barat, juga menyinggung revolusi industri 4.0.

Nasir mengingatkan, perguruan tinggi harus siap dengan perubahan ini. Semua perguruan tinggi mau tidak mau harus siap pula dengan pendidikan jarak jauh seiring perkembangan kursus terbuka daring di dunia. ”Regulasinya akan diterbitkan Maret nanti,” katanya.

Revolusi industri generasi keempat atau revolusi industri 4.0 mengedepankan otomasi dalam proses produksi. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, seperti big data dan kecerdasan buatan, sangat diutamakan.

Sehubungan dengan pendidikan jarak jauh itu, ujar Nasir, pihaknya akan membentuk cyber university yang akan mengawasi perkuliahan secara daring. Model pendidikan itu akan terus dikontrol agar bisa memberikan hasil maksimal bagi siapa saja yang menggunakannya.

”Lembaga menjalankan fungsi kendali mutu guna menjamin proses pembelajaran yang baik,” ujarnya. (DIM/SEM)

Sumber : Kompas.id