KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Para siswa SMA dan SMK penerima penghargaan video terbaik berfoto bersama dalam penutupan program #1nDONEsia: Cerdas Bermedia Sosial di Plaza UOB, Jakarta, Jumat (8/12/2017). Kegiatan yang dimotori oleh YouTube Creators for Change dan Ma’arif Institute tersebut bertujuan memberdayakan generasi muda lewat kreasi video positif bernilai toleransi dan keberagaman.

YOGYAKARTA, — Hasil penelitian Institut Dialog Antariman Interfidei Yogyakarta menunjukkan sekolah kerap terkendala dalam menyelenggarakan pendidikan agama bermuatan toleransi. Kurikulum pendidikan agama perlu formulasi lebih konkret guna menghindari perbedaan pandangan antarguru.

Dalam pemaparan di Kantor Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DI Yogyakarta, Selasa (23/1), koordinator peneliti Interfidei, Otto Yulianto, mengatakan, secara umum siswa SMA punya kesadaran pentingnya toleransi. Namun, guru agama di setiap sekolah punya standar berbeda terhadap toleransi.

”Bahasan soal toleransi dalam materi pendidikan agama di setiap sekolah berbeda-beda. Ada sekolah yang menjadikan muatan toleransi sebagai bahasan utama, ada pula yang hanya menjadikannya sebagai pelengkap,” ujarnya.

Interfidei melakukan penelitian di enam SMA di Yogyakarta, yakni SMA BOPKRI 1, SMA PIRI 1, SMA Pangudi Luhur, SMA Muhammadiyah 1, SMAN 1 Yogyakarta, dan SMAN 3 Yogyakarta. Sejumlah sekolah terkendala dengan perbedaan pandangan di antara guru agama terkait muatan toleransi.

Materi pendidikan agama yang tidak diimbangi dengan muatan toleransi, lanjut Otto, dapat memicu munculnya eksklusivitas dari agama tertentu. Padahal, eksklusivitas dalam pendidikan agama di sekolah berpotensi memperuncing perbedaan antaragama.

Meski memiliki siswa yang majemuk, guru agama menilai pengembangan sikap toleran adalah porsi dari guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Sementara guru agama fokus terhadap pengembangan religiusitas siswa.

Kebinekaan

Anggota Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila Ahmad Syafii Maarif menilai, selain memperdalam pemahaman agama, pendidikan agama semestinya juga menjadi sarana perekat kebinekaan di kalangan siswa.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Inayah Rohmaniyah mengingatkan, lingkungan eksternal di luar sekolah juga punya andil besar dalam membentuk pemahaman siswa terhadap toleransi. (DIM)

Sumber : kompas.id