Sabtu (13/1) siang, Masjid Agung Al-Jauhar Yasfi di Kampung Sawah di wilayah administratif Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat, sepi. Sejumlah orang, salah satu di antaranya sopir taksi, tengah shalat Dzuhur.

 Masjid Agung Al-Jauhar Yasfi (kanan), Gereja Katolik Santo Servatius (tengah), dan Gereja Kristen Pasundan (kiri) di Kampung Sawah, Bekasi, Rabu (13/12/2017). Di sini warga terbiasa hidup rukun dengan beragam keyakinan.
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Masjid Agung Al-Jauhar Yasfi (kanan), Gereja Katolik Santo Servatius (tengah), dan Gereja Kristen Pasundan (kiri) di Kampung Sawah, Bekasi, Rabu (13/12/2017). Di sini warga terbiasa hidup rukun dengan beragam keyakinan.

Seusai mengakhiri shalat dengan salam, ia melajukan mobilnya dari tempat parkir menuju pintu gerbang yang berhadapan dengan Pondok Pesantren Fisabilillah (Yasfi). Sekitar 20 meter ke arah utara, pada sisi yang sama dengan Masjid Agung Al-Jauhar Yasfi, jemaah Gereja Kristen Pasundan berkelompok di pelataran parkir.

Melaju sekitar 30 meter menuju utara, di sisi timur sejumlah orang berkumpul di pos jaga Gereja Katolik Santo Servatius.

Tak berapa lama, Matheus Nalih Ungin (55) menghampiri. Ia pengurus Gereja Katolik Santo Servatius. Nalih merupakan generasi kelima warga Kampung Sawah yang secara administratif berada dalam wilayah Kelurahan Jatimelati dan Jatiwarna.

Siang itu Nalih mengenakan baju polo warna merah marun dengan kopiah hitam di kepala. Membuka obrolan dengan menceritakan komunitas Ngeriung Bareng yang berarti berkumpul bersama. Komunitas ini beranggotakan warga setempat yang berbeda-beda agamanya.

Ngeriung Bareng tidak terfokus pada tokoh-tokoh sesepuh. Anak-anak muda diharapkan bisa meneruskan falsafah hidup rukun di kelak kemudian hari.

Nama Ngeriung Bareng berasal dari bahasa Sunda, sebagai pengaruh langsung persilangan beragam budaya di tempat itu sejak awalnya. Buku berjudul Sepangkeng Kisah Gereja Katolik Kampung Sawah yang diterbitkan Paroki St Servatius Kampung Sawah pada 2011 dan sebagian diunggah di laman servatius-kampungsawah.org, memuat fakta tersebut.

Dijelaskan, sejak abad ke-19 warga Kampung Sawah perpaduan berbagai etnis di Indonesia. Ada penduduk asli penganut Islam. Penduduk asli ini berasal dari Banten, diduga sisa-sisa prajurit Mataram saat menyerang Batavia di abad ke-17. Selain itu, juga orang-orang dari Pedurenan serta dari Cakung Payangan yang diduga menurunkan keluarga besar Rikin, Lampung, dan Baiin.

Dalam buku itu disebutkan pula sebagian etnis Tionghoa yang sudah lama berdiam di Kampung Sawah. Selain itu, terdapat penduduk dari Citrap, Gunung Putri, para pemeluk Kristen yang sebelumnya bekerja di perkebunan milik Major Jantje (nama aslinya Augustijn Michiels yang dijuluki ”de rijkste grondeigenaar van Java” atau pemilik tanah terkaya di Jawa).

Ngeriung Bareng pengejawantahan langsung ungkapan hidup Betawi yang berbunyi ”makan enggak makan yang penting kumpul,” itu diwujudkan dalam upaya untuk tetap bersatu dalam kumpulan apa pun yang terjadi. ”Jadi, bukan berarti makan enggak makan kumpul itu artinya kumpul dan diam saja. Pengertiannya kumpul untuk menghadapi masalah. Tingkat kesulitan seperti apa pun kita hadapi bareng,” ujarnya tentang falsafah sederhana yang kerap tertutup ego manusia itu.

Praktik ngeriung ampug menghadapi gempuran isu kebencian terhadap kelompok tertentu yang diembuskan pihak tidak bertanggung jawab pada momen hajatan politik. Kata Nalih, kuncinya komunikasi sosial, budaya, dan kehidupan.

”Itu (agama) tidak pernah didiskusikan, tetapi diimplementasikan dalam kelompok masing-masing agama,” katanya.

Tidak heran jika pada waktu-waktu tertentu suara azan dapat didengar nyaris bersamaan dengan bunyi lonceng gereja penanda waktu ibadah.

Hal lain yang juga mengikat toleransi, tentu saja proses kawin-mawin yang membuat pohon keluarga bercorak beragam menyusul anggotanya yang memeluk agama berbeda-beda. Nalih, misalnya, keluarga besar kakak ibunya menganut Islam.

Pencapaian bersama

Sebagai perkumpulan, Ngeriung Bareng telah melahirkan sejumlah hal. Beberapa di antaranya Forum Nasional Bhinneka Tunggal Ika dan media komunitas Suara Kampung Sawah berupa siaran radio dan koran.

Tagline-nya Ngelestariin Persaudaraan,” kata Yuherisman Sangaji (35), Sekretaris Forum Bhinneka dan Suara Kampung Sawah.

Stasiun radio dengan materi siaran seputar kearifan lokal dan wawasan kebangsaan dimulai pada 2015 dan penerbitan koran sejak 2015. Namun, tujuh bulan terakhir aktivitas dua media ini vakum menyusul pembangunan studio baru yang kini sudah mencapai 75 persen.

Bagi Yuherisman, meneruskan sikap hidup toleran kini menjadi tanggung jawab dirinya dan kawan-kawan segenerasinya. Karena itu, bersama-sama pemuda di sekitar lingkungan Yayasan Pendidikan Fisabilillah, setiap malam Minggu ia berkeliling ke rumah para pemuda. ”Tujuannya silaturahim, karena kalau hari biasa, kan, jarang ketemu,” ujarnya.

Nalih mengatakan, pemahaman orang Kampung Sawah tentang toleransi sebagian merupakan peninggalan guru terdahulu. Sejumlah tokoh engku, menjadi panutan warga. Dulu ini sebutan bagi guru pembantu dalam aktivitas pendidikan Katolik semasa penjajahan Belanda dan jelang kemerdekaan.

Belakangan, sebagian dari generasi muda memilih pula jalan hidup sebagai pendidik. Ini termasuk Nalih, yang kini guru di SMK Desa Putra, Jagakarsa, Jakarta Selatan. ”Pada zaman dulu memang didominasi aktivitas pendidikan, dan pendidikannya tentang budi pekerti dan karakter,” ujar Nalih.

Sumber :