Jakarta, Sekolah rentan disusupi paham dan gerakan radikalisme karena belum ada satu pun kebijakan spesifik untuk memproteksi sekolah dari pene-trasi paham dan gerakan radikalisme. Masuknya radikalisme ke sekolah melalui tiga pintu, yakni alumni, guru, dan kebijakan (kepala) sekolah. Penyusupan ini terjadi karena kurangnya pemahaman dan kesadaran sekolah tentang peta gerakan radikalisme.

Demikian hasil riset ”Penguatan Kebijakan Pembinaan Kesiswaan (OSIS) dalam Memperkuat Kebinekaan dan Kehidupan Inklusif di Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah” yang digelar Maarif Institute, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dan United Nation Development Programme Indonesia. Riset ini digelar pada 2-21 Oktober 2017 di 40 sekolah di 5 provinsi.

Dalam riset ini terungkap bahwa OSIS melalui bidang kerohanian kerap disusupi kelompok radikal lewat alumninya seperti yang terjadi di Kota Surakarta, Kabupaten Sukabumi, dan Kota Padang.

”OSIS seharusnya menjadi tempat membendung radikalisme. Namun, keterbatasan pengetahuan keagamaan ditambah hasrat ingin tahu yang besar justru dimanfaatkan oleh jaringan radikalisme untuk menginfiltrasi siswa dengan pengetahuan agama yang bernuansa kekerasan dan radikalisme,” kata Zuly Qodir, peneliti senior Maarif Institute, dalam seminar diseminasi hasil penelitian ini, Jumat (26/1), di Jakarta.

Di Surakarta, misalnya, alumni yang bercorak salafimenjadi referensi utama bagi pengurus OSIS. Salafimerupakan organisasi dan gerakan yang mengarah pada hal-hal yang sifatnya salafus shalih (kembali pada zaman kenabian dan sahabat yang bercorak pada praktik-praktik tektualis) era nabi dan sahabat.

Sementara itu, beberapa alumni OSIS Kabupaten Sukabumi berjejaring dengan sebuah pesantren dan sekolah tinggi yang berafiliasi pada Wahabi Saudi. Kampus itu mengajarkan bahasa Arab, ilmu-ilmu keislaman, dan propaganda antikebinekaan.

Di Denpasar dan Tomohon terjadi dominasi mayoritas atas minoritas di mana OSIS bidang kerohanian bertugas mem-
buat jadwal ibadah dan penyiapan sesajen bagi siswa sembari memfasilitasinya. ”Secara keseluruhan, mereka melakukan toleransi yang berstandar ganda atau toleransi yang malas,” kata Zuly.

Karakter radikalisme

Pemerhati pendidikan, Doni Koesoema A, sebagai penanggap riset berpendapat, OSIS selama ini kurang diberi peranan. ”Tidak ada ruang bagi mereka untuk membangun pemahaman tentang kebinekaan. Mereka perlu diberi ruang,” ujarnya.

Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Totok Suprayitno, desain kurikulum dan praksis pembelajaran agama mesti dilihat ulang apakah sudah mampu menginspirasi anak untuk menghargai perbedaan dan keberagaman atau justru masih sekadar mengajak anak menjadi ”ilmuwan” agama. (ABK)

Sumber : kompas.id