Jakarta, — Di Indonesia, kebutuhan akan papan atau tempat tinggal masih jadi persoalan yang tak kunjung selesai. Saat ini kekurangan rumah sekitar 11,4 juta unit, sedangkan setiap tahun kebutuhan akan rumah bertambah sekitar 800.000 unit.Di sisi lain, sejak 2015, Indonesia mengalami bonus demografi, yakni dominasi penduduk usia produktif pada rentang usia 15-64 tahun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ada 176,8 juta penduduk usia produktif pada 2017 di Indonesia, atau sekitar 67 persen dari 261,8 juta penduduk. Dari jumlah itu, sekitar 80 juta orang di antaranya adalah generasi milenial yang lahir pada 1980-1999.

Penambahan jumlah penduduk usia produktif tersebut sejalan dengan pertumbuhan jumlah masyarakat perkotaan. Menurut Bank Dunia, sekitar 52 persen penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan pada 2014. Pada 2025, diperkirakan ada 68 persen penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan.

Kondisi ini membuat kebutuhan akan hunian tak terelakkan. ”Liburan penting, tetapi punya rumah tetap prioritas. Sejak lajang, saya sudah berpikir mau beli rumah. Tinggal cara membagi dananya,” kata Novita Rahman (32), warga Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, yang membeli rumah dua bulan setelah menikah.

Namun, setelah memiliki rumah, pasangan suami-istri itu justru memutuskan tinggal di rumah orangtua Novita yang berjarak sekitar 2 kilometer dari rumah mereka. Rumah mereka belum bisa dihuni karena masih harus diisi perabotan, yang membutuhkan biaya besar. Padahal, sebagian besar gaji pasangan muda itu digunakan untuk mengangsur kredit rumah yang dibeli seharga Rp 868 juta.

Sejak menikah lima bulan lalu, Atika Permatasari (25) dan suaminya berencana memiliki rumah. Namun, keinginan itu belum terlaksana karena harga rumah di Jakarta tak terjangkau. Rumah dengan harga terjangkau ada di pinggiran Jakarta, yang mesti ditempuh 60 menit dari kantor Atika. Kini, mereka tinggal di rumah kontrakan, tak jauh dari kantor Atika di Jalan TB Simatupang, Jakarta.

”Dulu uang dipakai untuk jalan-jalan, enggak terpikir menabung untuk beli rumah. Sekarang, punya rumah itu kebutuhan nomor satu,” ujar Atika.

Belum seimbang

Konsultan properti Savills Indonesia merilis, sekitar 46 persen generasi milenial di Jakarta berpenghasilan di bawah Rp 4 juta per bulan. Sementara 34 persen berpenghasilan Rp 4 juta-Rp 7 juta per bulan, 14 persen berpenghasilan Rp 7 juta-Rp 12 juta per bulan, dan hanya 6 persen di atas Rp 12 juta per bulan. Dengan harga rumah di Jakarta yang rata-rata lebih dari Rp 400 juta per unit, dibutuhkan pendapatan minimal Rp 8 juta per bulan untuk bisa memiliki rumah di Jakarta.

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, harga rumah di Jabodetabek rata-rata naik 20 persen per tahun. Angka ini melampaui kenaikan gaji yang rata-rata 10 persen per tahun. Sementara upah minimum di Jabodetabek rata-rata Rp 3,1 juta per bulan atau sekitar 8 persen dari rata- rata harga tanah.

Kesenjangan antara kenaikan harga rumah dan kenaikan pendapatan semakin besar. Dengan kondisi pendapatan yang disandingkan dengan harga rumah —berikut kenaikan per tahun— generasi milenial terancam makin sulit, bahkan tidak mampu, membeli rumah.

Country General Manager Rumah123.com Ignatius Untung, dalam paparan ”Property Outlook 2018”, mengemukakan, kendati memiliki penghasilan di atas upah minimum, segmen menengah cenderung kesulitan membeli rumah nonsubsidi yang harganya sudah tinggi. Adapun segmen masyarakat berpenghasilan rendah ditopang program subsidi perumahan dari pemerintah.

Pilihan untuk menunda membeli rumah hanya akan membuat harga rumah semakin tidak terjangkau. Dari hasil kajian Rumah123.com, menunda satu tahun untuk membeli properti akan membuat kehilangan daya beli 4-8 persen. Contohnya, menunda satu tahun untuk membeli rumah berukuran 100 meter persegi, pada tahun berikutnya harga yang sama hanya bisa mendapatkan rumah berukuran 92 meter persegi.

Pinggiran

Kesulitan membeli rumah juga dialami generasi milenial di kota-kota lain. Untuk membeli rumah di tengah kota, mereka terkendala harga yang selangit. Untuk membeli secara kredit juga sulit karena mesti mengumpulkan uang muka.

Siti Fatimah (27), warga Kota Semarang, Jawa Tengah, memperhitungkan, untuk bisa membeli rumah secara kredit, ia harus memiliki Rp 30 juta-Rp 50 juta sebagai uang muka. Padahal, gajinya sebagai karyawan Rp 3 juta per bulan. ”Saya menghitung, uang muka rumah baru bisa terkumpul setelah empat tahun bekerja. Itu pun sebagian harus pinjam dari orangtua,” katanya.

Sementara Angling Adhitya (28) memilih membeli rumah di perbatasan Semarang-Demak. Setiap hari, ia menghabiskan waktu 60-90 menit di jalan untuk pergi-pulang dari rumah ke kantornya di pusat Kota Semarang.

Brilliant Johan (36), karyawan BUMN di Surabaya, membeli rumah di Mojokerto, yang berjarak 50 kilometer dari Surabaya. Alasannya, harganya lebih terjangkau. Pada 2014, rumah itu dibelinya seharga Rp 300 juta, yang dikredit selama 20 tahun.

Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Jawa Timur Supratno mengatakan, 10 tahun lalu, harga rumah seluas 36 meter persegi di Surabaya masih ada yang Rp 200 juta. Kini, rumah di pinggiran Surabaya harganya minimal Rp 800 juta.

Adapun Widya (29), karyawan di Medan, memilih membeli rumah bersubsidi seharga Rp 155 juta. Rumah itu ada di pinggiran Kota Medan, yang mesti ditempuh selama 30 menit dari tempat kerjanya. (LKT/NAD/SYA/ETA/KRN/WSI)

Sumber : kompas.id