Krisis kesehatan di Asmat: ‘Saya minum air langsung dari sungai’

Papua, Iber, pria berambut keriting berwarna kemerahan itu, tampak terlihat letih. Matanya kemerahan dan sesekali menguap.

Dia berdiri di samping anaknya, Eisentius -berusia lima bulan- yang terbaring lemah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats akibat gizi buruk.

Di ruang perawatan tersebut ada dua anak lainnya yang juga mengalami gizi buruk. Seperti Eisentius, tubuh dua bocah itu kurus kering dengan perut buncit.

“Sejak tadi (Senin, 29 Januari) malam, anak saya dirawat. Kami dijemput tim,” ungkap Iber kepada BBC Indonesia.

Iber berharap bisa segera meninggalkan rumah sakit, untuk membawa anaknya pulang. Mereka tinggal di Distrik Unir Siraw, kira-kira memakan dua jam perjalanan dengan naik perahu motor menuju Agats.

Untuk sekali perjalanan menyusuri sungai menuju Agats, Iber harus merogoh kocek hingga Rp600 ribu untuk sekali jalan. “Kalau pulang-pergi, satu juta lebih,” jelasnya.

Mimik Iber terlihat mengeras. Duit sebesar itu bagi pria yang sehari-hari bertani sagu dan umbi-umbian tentu saja terbilang mewah.

asmatHak atas fotoBBC INDONESIA
Image captionDi salah satu ruangan RSUD Agats, ada dua anak lainnya yang juga mengalami gizi buruk. Tubuh dua bocah itu kurus kering dengan perut buncit.

Namun, Iber tidaklah sendirian. Sebagian besar orang tua yang anaknya meninggal dan sakit karena terpapar campak dan gizi buruk tinggal jauh dari pusat kesehatan yang ideal.

Dari 71 anak yang meninggal dunia karena campak dan gizi buruk, 37 di antara mereka berasal dari Distrik Pulau Tiga.

Untuk menuju ke wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Mimika itu, hanya bisa dilalui melalui jalur sungai menggunakan perahu bermotor. Perjalanan tersebut dapat memakan waktu antara dua hingga tiga jam.

Ketika krisis kesehatan gizi buruk dan campak di Asmat ini menjadi sorotan media, kondisi geografis wilayahnya—yang didominasi rawa berlumpur dan sungai-sungai—dianggap sebagai salah satu pemicu utama kasus tersebut.

“Jangkauan ke pusat pengobatan sangat sulit karena masyarakat harus menggunakan jalur laut dan sungai,” kata Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, usai mengunjungi pasien campak dan gizi buruk di Asmat, Kamis (25/01) lalu.

Kondisi ini diperparah harga bahan bakar minyak (BBM) yang relatif lebih mahal akibat suplai BBM yang tidak lancar di wilayah itu.

asmatHak atas fotoBBC INDONESIA
Image captionUntuk membawa anak mereka yang sakit akibat gizi buruk ke RSUD Agats, para orang tua harus menempuh perjalanan selama dua hingga tiga jam dengan ongkos lebih dari Rp1 juta.

Minum air sungai

Tentu saja, persoalan di balik krisis kesehatan tersebut tak melulu soal geografis.

Theresia, yang anaknya dirawat di RSUD Agats karena kurang gizi, mengaku mengonsumsi air sungai untuk kebutuhan makan dan minum sehari-hari.

Di Distrik Fayt, tempatnya bermukim, sebanyak 14 warga setempat meninggal akibat gizi buruk dan campak sejak September 2017.

“Airnya tidak dimasak, kami biasa minum langsung (dari sungai),” ungkap Theresia kepada BBC Indonesia.

Sampai anaknya mengidap gizi buruk, dia mengaku keluarganya dalam kondisi sehat.

“Biasa-biasa saja,” katanya, enteng.

Dan bagaimana mereka buang air kecil dan besar?

Theresia mengaku tidak memiliki jamban yang layak. “Kami buang air besar dan kecil di dekat rumah.”

asmatHak atas fotoBBC INDONESIA
Image captionOrang tua yang anaknya dirawat di RSUD Agats akibat gizi buruk, mengaku mengonsumsi air sungai untuk kebutuhan makan dan minum sehari-hari.

Kediaman mereka yang jauh dari sungai juga dijadikan alasan mereka “buang hajat” di pekarangan rumah mereka.

Di ibu kota Asmat, Agats, sebagian warganya juga tidak memiliki jamban keluarga.

Marlen Osok, perempuan kelahiran 1984, yang anaknya dirawat karena terpapar gizi buruk, mengatakan memiliki jamban bersama di belakang rumah.

“Kami tutupi saja dengan seng, tidak ada septic tank,” kata Marlen yang rumahnya tidak jauh dari Pasar Dolog.

Kenyataan seperti ini tidak dipungkiri otoritas kesehatan di Kabupaten Asmat, tetapi tidak mudah bagi mereka untuk menghilangkan kebiasaan seperti itu.

“Hanya bisa sedikit-sedikit mengubah perilaku mereka,” ungkap pimpinan utama RSUD, Richard Rumbino.

Menurutnya, kampanye sanitasi sehat sudah dan terus dilakukan.

Untuk itulah, sebuah penanganan jangka panjang dan berkelanjutan harus dilakukan jika tidak ingin wabah serupa terulang kembali, kata Robertus Yaftoran, ahli kesehatan ibu dan anak.

Hal ini ditekankan setelah para pasien campak dan gizi buruk itu sudah “dipulangkan” ke rumah masing-masing.

asmatHak atas fotoBBC INDONESIA
Image captionTenaga medis dikerahkan ke Kabupaten Asmat untuk menangani krisis kesehatan di sana.

Kehadiran tenaga medis

Di sinilah diperlukan kehadiran dan ketersediaan tenaga medis yang handal di wilayah yang terpencil dan jauh dari jangkauan kesehatan.

“Juga diperlukan sistem rujukan. Radio medis sangat penting untuk komunikasi perawat dan dokter dari distrik ke kabupaten, ke dinas atau ke rumah sakit,” kata Robertus Yaftoran.

Sehingga, menurut Robertus, sistem rujukan seperti ini dapat berguna ketika terjadi kedaruratan seperti yang terjadi pada krisis campak dan gizi buruk di Asmat.

“Bisa ditangani secepatnya dan juga ada laporan wabah yang sifatnya mingguan,” kata Robertus yang juga Kepala seksi tumbuh kembang anak di kantor dinas Kementerian Pemberdayaan anak dan KB di Kabupaten Asmat.

Sebuah harapan yang juga disadari oleh banyak pihak, termasuk oleh Menteri Kesehatan Nila Moeloek.

“Terlalu banyak hal dan membutuhkan penanganan jangka panjang, untuk membicarakan penanganan masalah ini,” katanya.

Krisis kesehatan berupa gizi buruk dan campak di Asmat, Papua, telah menyebabkan 71 anak meninggal dunia dan sedikitnya 800 orang dirawat di rumah sakit.

Walaupun jauh berkurang, anak-anak yang terserang campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat, Provinsi Papua, masih dapat dijumpai di rumah sakit umum daerah (RUD) Agats, Rabu (31/01) dini hari.

“Gizi buruk ada 21, campaknya ada lima,” ungkap Richard Rumbino, pimpinan RSUD Agats, satu-satunya rumah sakit di wilayah Asmat.

Sumber : bbc.com

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *