PKL Sudirman Terinspirasi Tanah Abang

Jakarta, Kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan terhadap pengelolaan pedagang kaki lima (PKL) di Tanah Abang, Jakarta Pusat, menuai rasa iri PKL di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat. Para PKL di Jalan Jenderal Sudirman berharap bernasib sama dengan PKL Tanah Abang.

Puluhan PKL memenuhi trotoar yang tak jauh dari Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, demi menyambung hidup sehari-hari.

“Kami minta enggak muluk-muluk sampai boleh berjualan di Jalan Sudirman. Cukup dibolehkan berjualan di trotoar saja, kami sudah bersyukur,” sebut Ilham, 47, salah satu PKL yang sudah dua bulan belakangan berdagang di sana, Rabu, 31 Januari 2018.

Perda DKI Jakarta No 8/2007 tentang Ketertiban Umum Pasal 25 ayat (2) menyebutkan, ‘Setiap orang atau badan dilarang berdagang, berusaha di bagian jalan atau trotoar, halte, jembatan penyeberangan orang, dan tempat-tempat untuk kepentingan umum di luar ketentuan.

Namun, Ilham mengaku tak takut dirazia petugas Satpol PP meski ia tahu ada larangan tersebut.
“Buktinya PKL yang di Tanah Abang enggak ada yang ditangkapi. Di sana bukan cuma boleh berjualan di trotoar, melainkan difasilitasi berjualan di jalan. Jadi kenapa saya harus ditangkap?” ucapnya.

Selama dua bulan berjualan, ia mengaku tak pernah didatangi petugas Satpol PP. Setiap malam, selama dua bulan, pria asal Sumatera Barat itu mulai menggelar lapak pada pukul 18.00 WIB. Lapak baru tutup sekitar pukul 23.00-00.00 WIB.

Beragam dagangan dijualnya di atas trotoar yang semestinya milik pejalan kaki, mulai sepatu, pakaian, sandal, topi, hingga makanan pecel sayuran dan minuman ringan.

Semuanya digelar hingga hampir menguasai separuh lebar trotoar. Yellow line atau rambu yang merupakan jalur pejalan kaki bagi disabilitas pun mereka babat.

Ilham tidak sendirian. Tiap malam, puluhan pedagang menjajakan dagangan mereka mulai JPO Halte Trans-Jakarta Bendungan Hilir hingga trotoar sebelum Gedung Intiland.

Cukup panjang trotoar yang mereka okupansi, hingga 100 meter-200 meter. Lapak dagangan pun dilengkapi dengan lampu yang sangat terang sehingga membuat nyaman pedagang dan pembeli.

Gusuran Pasar Benhil

Para pedagang yang berdagang di trotoar Jalan Jenderal Sudirman itu sejatinya para pedagang yang terkena penertiban di Pasar Bendungan Hilir. Pada 2015, mereka ditertibkan karena sudah berjualan dengan mengambil badan jalan.

Kehadiran mereka berawal dari kebiasaan warga sekitar Pasar Bendungan Hilir di tiap Ramadan dengan menggelar dagangan takjil di badan jalan sepanjang pasar.

Hal itu dimanfaatkan para PKL untuk ikut berdagang barang dagangan lain, bahkan hingga di luar Ramadan. Alhasil, jalan di depan pasar selalu macet sepanjang hari.

Pada Mei 2017, pedagang takjil di Ramadan dipindahkan ke lapangan kosong yang dijadikan sebagai ‘Benhil Central’ ketika itu.

Sementara itu, para PKL berjualan dengan cara kucing-kucingan hingga akhirnya menemukan tempat yang pas di trotoar Jalan Jenderal Sudirman.

Selasa 30 Januari 2018 malam, petugas Satpol PP mendatangi kawasan itu. Sebagian pedagang langsung mengemas dagangan mereka, tapi sebagian lagi memilih tidak beranjak dari lapak mereka.

Kasatpol PP Kelurahan Bendungan Hilir Delki Siregar mengatakan malam itu ia ditugasi menertibkan kawasan tersebut. Penertiban itu bermula dari laporan warga yang masuk melalui aplikasi Qlue.

Ia juga memperlihatkan foto utama harian Media Indonesia terbitan Selasa, 30 Januari 2018 yang memuat gambar PKL berjualan di atas trotoar Sudirman. “Kita selama ini fokus ke Tanah Abang. Baru tadi ada keluhan dari warga, kemudian ada instruksi dari pimpinan untuk menertibkan PKL di sini,” ujar Delki.

(YDH)

Sumber : news.metrotvnews.com

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *