Ahli Tata Air: Retorika tak Bisa Atasi Banjir Jakarta

Jakarta, Program pembuatan drainase vertikal sempat naik daun saat kampanye Pilkada DKI Jakarta tahun lalu. Pasalnya, program yang dicetuskan oleh duet Anies Baswedan dan Sandiaga Uno itu diklaim ampuh mengatasi banjir.

Pada Februari 2017 lalu, Anies mengumbar ide pembuatan drainase vertikal. Menurutnya, resapan air itu bisa menjadi jalan keluar.

“Pada akhirnya, pengelolaan air harus menggunakan vertical drainage, bukan horizontal drainage. Artinya, dialirkan ke laut saja belum cukup. Tetap dimasukkan ke bumi, dan bumi Jakarta memerlukan air. Ke depan, vertical drainage, bukan horizontal drainage,” kata Anies saat itu.

Anies pun sempat menyindir kinerja pemimpin DKI sebelumnya, Basuki Tjahja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat. Ahok-Djarot disebut telah melakukan kesalahan fatal lantaran mengalirkan air hujan ke laut.

“Dan ini melawan Sunnatullah. Kenapa? Air itu turun dari langit ke bumi, bukan ke laut. Harusnya dimasukan ke dalam bumi, masukan tanah. Kenapa? Di seluruh dunia air jatuh itu dimasukan ke tanah, bukan dialirkan pakai gorong-gorong raksasa ke laut. Jakarta telah mengambil keputusan yang fatal,” ujar Anies kala itu.

Belum lama ini, Anies memberikan pernyataan yang berbeda dengan masa kampanyenya. Di video wawancara dengan salah satu stasiun televisi, Anies mengatakan telah menyiagakan 450 pompa air.

Pompa-pompa tersebut siap menyedot dan membuang air ke laut. “Semua pompa kami lebih dari 450 semua dalam posisi siap. Lebih dari 200 ada di muara dan semua juga dalam posisi siap. Dan ketika air sampai di muara, maka siap untuk dipompa ke laut,” kata Anies.

Ucapan mantan Menteri Pendidikan itu pun mendadak viral di media sosial. Warganet menganggap Anies tidak konsisten.

Namun, saat ditanya perihal kelanjutan pembuatan drainase vertikal, Anies mengaku sudah menjalankan. Hanya saja, dia tak mau sesumbar.

“Sudah (jalan), bahkan Februari ini sebenarnya proses inspeksi jalan. Cuma enggak mau diumumin dulu,” kata Anies di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu, 7 Februari 2018.

Ia menyampaikan, drainase vertikal sangat diperlukan saat curah hujan tinggi. Dengan begitu, air yang tidak tertampung di sungai akan masuk ke dalam tanah.

“Kalau curah hujan di Jakarta tinggi, maka dimasukkan ke dalam tanah,” imbuhnya.

Menurut ahli tata air dari Universitas Indonesia, Firdaus Ali, konsep drainase vertikal tidak menjadi solusi. Sebab, tanah memiliki titik jenuh.

“Kita memang mengusahakan untuk meresapkan air. Tapi kan resapan itu ada batasnya, ada titik jenuh. Kalau sudah jenuh pasti meluap,” kata Firdaus kepada Medcom.id, Jakarta, Rabu, 7 Februari 2018.

Firdaus menjelaskan konsep mengatasi banjir adalah mengalirkan air secepat mungkin ke laut. Ia lantas meminta Anies untuk tidak banyak beretorika.

“Retorika tidak menyelesaikan masalah. Yang menyelesaikan masalah kalau kita do something,” ungkapnya.

Firdaus menyayangkan sikap Anies-Sandi yang kurang cekatan mengatasi banjir. Padahal, banjir sudah bisa diprediksi dari pertama kali Anies-Sandi duduk di kursi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

“Anies-Sandi belum punya solusi atasi banjir. Seharusnya, di 100 hari kerja itu fokus menangani banjir karena banjir ini bisa diprediksi dan selalu datang setiap tahun. Ini malah berpolemik dengan masalah becak dan (pelarangan) motor,” terang Firdaus.

(YDH)

Sumber : news.metrotvnews.com

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *