Bukan Negeri Kualat

NEGERI kualat ialah negeri yang keberagamannya tak terawat. Negeri kualat ialah negeri yang tak bersyukur, yang terancam hancur lebur. Bukankah keberagaman ialah kehendak sekaligus nikmat, sunatullah, hukum alam? Bukankah kita disuruh bersyukur atas nikmat, termasuk nikmat keberagaman?

Siapa bersyukur, nikmatnya dilipatgandakan. Siapa kualat, tunggulah laknat. Siapa ingkar, tunggulah kehancuran. Sejarah membuktikan negeri-negeri yang mengingkari keberagaman terpecah belah hingga kemudian hancur berantakan. Sejarah mencatat negeri-negeri yang bersyukur, yang menghargai keberagaman, sebagai negara-negara makmur.

Indonesia diberkahi keberagaman luar biasa. Kita disebut sebagai negara paling plural di kolong langit, baik dalam hal etnik, agama, maupun budaya. Sudah sepantasnya kita bersyukur atas kekayaan itu. Sudah selayaknya kita merawat keberagaman itu. Akan tetapi, sejumlah peristiwa penyerangan kegiatan keagamaan belakangan ini membuat kita cemas, Indonesia masih bisa disebut negara bersyukur?

Kejadian-kejadian semacam itu menjadikan kita berpikir, jangan-jangan Indonesia negeri kualat. Kemarin, seorang lelaki bersenjata tajam menyerang misa di Gereja Lidwina, Sleman, Yogyakarta. Pastor yang memimpin misa serta beberapa jemaat terluka. Pekan sebelumnya, tepatnya Minggu (4/2), sekelompok warga menghalang-halangi kegiatan biksu di Legok, Tangerang, Banten.

Warga memaksa sang biksu menandatangani pernyataan untuk menghentikan kegiatannya. Jelas, kedua peristiwa itu merupakan pelanggaran kebebasan beragama. Pastilah keduanya peristiwa yang mengingkari nikmat keberagaman. Para pelaku berbuat seperti itu karena miskinnya pemahaman akan agama, baik agama sendiri maupun agama berbeda.

Ada kaitan memahami agama lain dan memahami agama kita sendiri. Bila kita hanya memahami agama kita sendiri, kita sebenarnya tak memahami agama apa pun. Akan tetapi, bila kita memahami agama-agama lain, kita akan memahami agama kita secara lebih baik. Kita sering kali membenci yang tidak kita kenal. We hate what we don’t know.

Oleh karena itu, kenalilah agama-agama lain. Mengenal dan mempelajari agama-agama lain tak akan membuat kita berpaling dari agama kita, tetapi justru membuat kita semakin memahami agama yang kita anut. Mereka yang tidak memahami agama akan mudah diprovokasi untuk menyerang agama lain.

Bicara soal provokasi, ada yang menghubungkan serangan terhadap pastor di Yogyakarta dengan serangan terhadap ulama di Jawa Barat. Bila hubungan itu benar adanya, itu artinya pelaku penyerangan pastor terprovokasi oleh penyerangan ulama. Provokasi hanya menyulut konflik yang akan menciptakan perpecahan. Perpecahan ialah pangkal kemunduran dan kehancuran negara.

Kita mengapresiasi berbagai organisasi keagamaan dan tokoh agama yang mengimbau umat agar tak terprovokasi. Tak sekadar mengimbau, tokoh agama dan organisasi keagamaan semestinya memberi teladan toleransi. Imbauan dan teladan toleransi itu menjadi simbol bahwa kita bangsa yang tetap ingin bersyukur atas anugerah keberagaman. Itu artinya kita tak hendak menjadi negeri kualat.

Sumber : mediaindonesia.com

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *