Masyarakat Yogya Desak Sultan Bubarkan Ormas Antitoleransi

Berbagai elemen masyarakat di DI Yogyakarta merespons insiden Gereja Santo Lidwina, Trihanggo, Sleman, Yogyakarta yang terjadi pada Minggu pagi, 11 Februari 2018 dengan mendesak Gubernur DIY Sri Sultan Hemengku Buwono X untuk bertindak dan membubarkan organisasi massa (Ormas) anti toleransi. (Suara Pembaruan/Fuska Saani)

Yogyakarta – Berbagai elemen masyarakat di DI Yogyakarta merespons insiden Gereja Santo Lidwina, Trihanggo, Sleman, Yogyakarta yang terjadi pada Minggu (11/2) pagi dengan mendesak Gubernur DIY Sri Sultan Hemengku Buwono X untuk bertindak dan membubarkan organisasi massa (Ormas) anti toleransi.

Dipimpin langsung oleh Anggota Komisi X DPR Esti Wijayati, ratusan orang yang berasal dari 32 elemen organisasi, termasuk mahasiswa meminta Sri Sultan agar segera melakukan tindakan yang berarti, mengayomi masyarakat dan memindak tegas pelaku intoleransi.

Dosen Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Prof Mukhtasar Syamsuddin yang membacakan tuntutan menyatakan, mengingat Yogyakarta memiliki slogan City of Toleransi maka Sultan secepatnya harus membubarkan ormas-ormas yang sudah meresahkan masyarakat dan turun-langsung mengatasi masalah intoleransi.

“Kami menolak tindakan yang akan menggantikan slogan Yogya sebagai City of Toleran, dan meminta Sultan untuk mengayomi segenap masyarakat dan menjamin kebebasan beragama di DIY,” ujarnya, Minggu (11/2) malam.

Esti Wijayanti juga meminta kepada pemimpin di negeri ini agar memerhatikan kasus serupa. Menurutnya sudah bukan saatnya lagi, radikalisme dan intoleransi diberi ruang hingga menimbulkan korban. “Kita siap melawan,” tegasnya.

Sumber: Suara Pembaruan