Pengembangan Wisata Alam Dikebut

Pemanfaatan jasa lingkungan untuk wisata terus dikembangkan untuk meningkatkan pemanfaatan hutan tanpa harus menebang kayu. Sebabnya, saat ini hasil hutan dari kayu hanya 5%. Selebihnya diperoleh dari jasa lingkungan hutan berupa air, udara, pengaturan tata air, kesuburan tanah, hingga ecotourism.

“Memanfaatkan hutan tanpa harus menebang kayu bisa memberikan manfaat yang lebih besar. Tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga masyarakat sekitar. Itu yang terus kita sosialisasikan,” kata Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Djati Witjaksono Hadi di Taman Wisata Alam Gunung Pancar, Bogor, baru-baru ini.

Menurutnya, kawasan konservasi, taman nasional, dan taman wisata alam yang bisa diakses masyarakat pada zona tertentu selama dua tahun terakhir terus meningkat. Hal itu terlihat dari jumlah penerimaan negara bukan pajak dari biaya kunjungan yang meningkat 3 sampai 10 kali lipat di setiap wilayah.

Karena itu, di masa depan, selain keindahan alam, juga akan terus dikembangkan berbagai sajian dan atraksi yang dapat menarik minat masyarakat berwisata. Menurut Djati, kerja sama dengan pemerintah daerah dan Kementerian Pariwisata bakal terus dilakukan untuk memaksimalkan hal tersebut.

“Terakhir kita kerja sama dan mendukung pengembangan badan otorita wisata di Labuan Bajo,” ujarnya.

Meski begitu, lanjutnya, pengembangan wisata juga tetap akan dilakukan seiring dengan upaya perlindungan dan konservasi. Rehabilitasi dan pengembangan jasa lingkungan dilakukan secara bersamaan.

Sementara itu, Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat Sustyo Iriyono mengatakan saat ini salah satu potensi besar yang dapat dimanfaatkan dari hutan ialah jasa lingkungan di ekowisata. Terlebih, saat ini minat masyarakat pada wisata terus meningkat. Namun, di beberapa area rehabilitasi masih diperlukan penyelesaian.

“Sekitar 3.500 hektare wilayah konservasi di Jawa Barat telah terambah dan rusak. Akibatnya, ekosistem menjadi terganggu dan berpotensi menimbulkan dampak ekologis lain, seperti bencana longsor,” ujar Sustyo.

Ia menjelaskan, di Jawa Barat terdapat 50 wilayah konservasi seluas 83 ribu hektare. Seluruh area yang telah rusak tersebut berada di lima wilayah konservasi. (Pro/H-2)

Sumber : mediaindonesia.com

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *