Bicara Baik di Tahun Politik

Jakarta, Politisi adalah moralis “pemintal kata-kata” yang tak mudah kehilangan inspirasi dan selalu membicarakan kebenaran dan masa depan — (Plato) TAHUN 2018 adalah tahun politik. Ini karena pada 2018, Indonesia bakal menggelar 171 pemilihan kepada daerah (pilkada) secara langsung. Berlanjut ke tahun berikutnya pesta demokrasi untuk memilih anggota legislatif dan presiden. Yang pasti akan menghangatkan kompetisi bahkan memanaskan dunia politik Tanah Air.
Dalam pandangan idealis Plato, sejatinya kata-kata yang keluar dari mulut politisi adalah sarana mengembangkan kesadaran kemanusiaan untuk menyampaikan kebenaran dan keyakinan positif. Politisi adalah moralis “pemintal kata-kata”. Meski pada sisi yang lainnya, menurut filsuf Perancis, Voltaire, “politik adalah seni merancang kebohongan”.
Kemampuan berbicara adalah salah satu kemampuan dasar manusia yang paling esensial yang membedakan dengan makhluk lainnya. Akan selalu ada dinamika kalau berbicara terkait politik, bahkan selalu menimbulkan perdebatan ringan, hingga konflik. Nabi Muhamad SAW pun mengingatkan kita, “Jika kita tidak mampu berbicara baik, maka lebih baik diam.
” Bahayanya lidah juga dingatkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang mengingatkan, “Seseorang mati karena tersandung lidahnya. Dan, seseorang tidak mati karena tersandung kakinya. Tersandung mulut akan membuat (pening) kepala, sedang tersandung kaki akan sembuh perlahan.” Bicara baik penting bagi nation branding Indonesia.
Bicara diperlukan untuk membangun persepsi positif negara kita terkait dengan karakter, identitas, dan value yang dimiliki. Termasuk image tentang politik saat ini yang penuh kegaduhan dan terkesan saling cakar-cakaran dan menghalalkan segala cara. Dinamika komunikasi politik kita saat ini diwarnai oleh gambaran buram yang diwarnai oleh perilaku aktor politik yang nyaris mendominasi kita setiap detik, setiap menit, setiap jam dalam hari-hari dengan mengumbar kata-kata persuasif, klise, dan terkadang bohong, disertai foto narsistik, dan seringkali tidak memberi inspirasi bermakna.
Saat ini dalam panggung politik Indonesia telah terjadi banyak distorsi yang penuh kegaduhan dan kepalsuan. Meminjam ungkapan Yudi Latif, saat ini bangsa kita sepertinya sedang memasuki “peradaban dangkal”, yang senang memuja apa yang terlihat “luar biasa” meski penuh “kepalsuan”. Realitas politik saat ini menjadikan masyarakat awam bingung dalam memaknai realitas yang nyata atau maya. Yang asli atau manipulatif dalam dunia yang melebur penuh kegaduhan yang disumbang oleh para politisi. Juga konflik yang berkembang di media sosial.
Kita prihatin betapa mudahnya aktor dan simpatisan politik menuliskan umpatan, makian, dan kata-kata kotor lainnya hanya untuk mengungkapkan perbedaan pandangan, pendapat bahkan orientasi politiknya yang seolah tanpa norma dan aturan. Memang berbicara dan berkomunikasi pada pada realitasnya bukanlah hal mudah.
Dari catatan historis sejak ribuan tahun yang lalu ada negara besar, kuat dan maju, pada masa 5000 tahunan Sebelum Masehi dapat hancur oleh sejenis penyakit yang terkait dengan komunikasi. Dalam bahasa Arab disebut penyakit tabalbul. Dalam bahasa Belanda babylonnische taalverwarring. Artinya, keseleo lidah.
Keseleo lidah dalam mengucapkan kata dan kalimat sehingga menimbulkan salah pengertian, mengundang perdebatan bertele-tele, atau meninggalkan inti substansi persoalan yang dibicarakan, melantur ke mana-mana. Akibatnya penduduk Babilon saling berkonflik hingga berperang satu sama lain yang menyebabkan negara Babilon runtuh.
Hal yang sesungguhnya potensial terjadi di negara kita, terutama dalam pembicaraan tentang politik. Pada bidang politik saat ini kita nyaris kehilangan contoh adanya perdebatan yang santun dan mencerahkan dari politisi yang menjadi anggota legislatif yang ada di pusat maupun daerah terlebih pada saat menjelang pemilu maupun pilkada.
Meski sesungguhnya makna politik bagi politisi yang memiliki integritas tidaklah senaif dan sedangkal yang dipersepsikan dan diaktualisasikan oleh sebagian besar politisi kita pada umumnya. Berbicara yang baik terkait politik yang dilakukan oleh masyarakat dan terutama politisi akan senantiasa hadir dalam ruang dan waktu dalam beragam konteks kepentingan.
Seorang politisi yang telah mampu berbicara baik, hakikatnya telah melakukan personal branding bagi dirinya termasuk bagi partainya. Selanjutnya menumbuhkan reputasi baik bagi diri, partai bahkan bagi hadirnya Indonesia yang lebih baik. Semoga!
Sumber : nasional.kompas.com
Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *