Di Balik Keputusan DKI Menghentikan Pembangunan RPTRA

 Kondisi RPTRA Jakpro Asri, Pluit, beberapa bulan setelah diresmikan, Kamis (16/11/2017). RPTRA ini digunakan warga sekitar Pluit untuk mengenalkan anak-anak pada kegiatan luar ruang. Kondisi RPTRA Jakpro Asri, Pluit, beberapa bulan setelah diresmikan, Kamis (16/11/2017). RPTRA ini digunakan warga sekitar Pluit untuk mengenalkan anak-anak pada kegiatan luar ruang.(Kompas.com/Setyo Adi)
JAKARTA, – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana tidak akan membangun ruang publik terpadu ramah anak ( RPTRA) pada 2019. Alasannya, karena Pemprov DKI kesulitan mencari lahan aset pemda yang bisa digunakan membangun RPTRA.
Di sisi lain, Pemprov DKI tidak mau melakukan pembebasan lahan untuk RPTRA karena membutuhkan waktu lama dan anggaran lebih besar.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman DKI Jakarta Agustino Darmawan mengatakan, jumlah RPTRA di Jakarta dinilai sudah melampaui target.
Pemprov DKI awalnya menargetkan RPTRA ada di 267 kelurahan. Saat ini, sudah ada 290 RPTRA di Jakarta.
Ia menambahkan, ada hal yang lebih penting untuk dibangun dibandingkan RPTRA, yaitu ruang terbuka hijau (RTH).
“Sekarang cari lahan susah, kan, kami enggak mungkin bebasin lahan (untuk RPTRA), lama. Skalanya juga luar biasa, anggaran besar untuk RPTRA,” kata Agustino di gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (5/3/2018).
Wali Kota Rotterdam, Belanda, Ahmed Aboutaleb, menjajal wahana permainan anak jungkat-jungkit di RPTRA Kalijodo, Senin (12/6/2017). Wali Kota Rotterdam, Belanda, Ahmed Aboutaleb, menjajal wahana permainan anak jungkat-jungkit di RPTRA Kalijodo, Senin (12/6/2017).
“Kalau kami pikir, kenapa enggak bebasin tanah untuk kejar rasio RTH? Itu lebih penting,” tambahnya. Ia menambahkan, RPTRA tidak bisa disamakan dengan RTH. Di RTH, hanya 10 persen lahan yang boleh didirikan bangunan. Biasanya untuk jogging track saja. Karena alasan itu, pembangunan RTH akan diprioritaskan pada 2019.
Bukannya Maju Malah Mundur Dong “Lebih baik mana? Membangun yang rasionya belum tercapai atau membangun yang rasionya sudah tercapai?” tanya Agustino. Sandiaga ingin RPTRA dilanjutkan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno(Kompas.com/Akhdi Martin Pratama) Berbeda dengan Agustino, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan, seharusnya program RPTRA tetap dilanjutkan. Sebab, program ini sangat dibutuhkan masyarakat Jakarta.
“Mestinya (pembangunan RPTRA) diteruskan ya, kalau diperlukan warga. Kami lihat bagaimana RPTRA, nanti saya lihat, saya cek teknisnya,” ujar Sandiaga di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin. Sandiaga mengatakan, program pembangunan ruang terbuka untuk anak-anak dan perempuan tetap menjadi prioritas Pemprov DKI. Dilanjutkan Atas dasar itu, dia mengaku akan mencari cara lain jika Pemprov DKI tak punya anggaran dan lahan untuk membangun RPTRA di Ibu Kota.
TPTRA Akasia yang dibangun oleh Tanoto Foundation, diresmikan Jumat (21/10/2016). TPTRA Akasia yang dibangun oleh Tanoto Foundation, diresmikan Jumat (21/10/2016).(Dok. Tanoto Foundation) Menurut dia, pemerintah wajib mencari solusi demi memenuhi kebutuhan masyarakat. “Walaupun sudah habis dari segi lahan mau pun anggaran, kami cari sumber-sumber lain yang bisa kami gunakan untuk memenuhi permintaan masyarakat,” ujarnya.
Dia ingin memastikan pembangunan RPTRA di Jakarta tetap berlanjut. Dia berencana menggandeng pihak swasta kembali membangun RPTRA. “Saya ingin juga melibatkan swasta, pemilik lahan luas juga, karena ini juga tanggung jawab bersama,” ucapnya. Disenangi warga Keberadaan RPTRA direspons positif sejumlah warga, salah satunya Ningsih (48) yang ditemui di RPTRA Jaka Teratai, Jatinegara Kaum, Jakarta Timur.
Ningsih menilai, banyak kegiatan positif yang dapat dilakukan anak-anak di RPTRA. Ia yang tengah mengantarkan anaknya berkompetisi futsal di RPTRA tersebut menilai, keberadaan RPTRA menyediakan tempat bermain yang aman bagi anak. Oleh karena itu, Ningsih tidak setuju apabila pemerintah tidak lagi membangun RPTRA pada 2019.
Sejumlah bocah bermain di ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) Tanah Abang 3, Jakarta Pusat, Selasa (25/72017).
Jakarta menjadi salah satu kota yang memperoleh predikat Kota Layak Anak (KLA) tahun 2017 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Pembangunan sejumlah RPTRA turut berkontribusi bagi predikat Jakarta sebagai KLA. Sejumlah bocah bermain di ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) Tanah Abang 3, Jakarta Pusat, Selasa (25/72017).
Jakarta menjadi salah satu kota yang memperoleh predikat Kota Layak Anak (KLA) tahun 2017 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Pembangunan sejumlah RPTRA turut berkontribusi bagi predikat Jakarta sebagai KLA.(KOMPAS/RIZA FATHONI)
“Tidak setuju ya, kalau RPTRA tidak dibangun lagi. Kalau tidak dibangun, bukannya maju, malah mundur dong,” ujarnya. Hal senada disampaikan Tatik (62), warga RW 008. Ia bersama ibu-ibu di wilayahnya datang ke RPTRA Jaka Teratai meski jaraknya jauh dari tempat tinggal mereka. “Menurut saya, idealnya harus ada RPTRA di setiap RW. Satu RPTRA satu RW. Biar jaga anak-anaknya dekat,” ucap Tatik.
Sandiaga Ingin Dilanjutkan Ia juga berpendapat, semakin banyak RPTRA dan kegiatan positif di dalamnya, anak-anak jadi terhindar dari kegiatan negatif, terutama yang berkaitan dengan penggunaan narkoba di kalangan remaja. Setelah diresmikan kemarin kawasan Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) kalijodo kini semakin menjadi lokasi favorit warga ibu kota. Banyak warga Jakarta yang membawa putra-putrinya untuk bermain di arena bermain di sini diklaim Pemprov DKI bertaraf internasional
Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *