Megawati Raih Gelar Doktor Honoris Causa dari IPDN

Sumedang – Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri menerima gelar Doktor Honoris Causa (HC) dari Institut Pemerintah Dalam Negeri (IPDN). Upacara penganugerahan dilakukan di Balairung Rudini, Kampus IPDN Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat (Jabar), Kamis (8/3).

Sebelum menerima gelar, menurut Menteri Dalam Negeri (mendagri) Tjahjo Kumolo, Megawati akan memberikan orasi ilmiah terlebih dahulu. orasi ilmiah Megawati sangat dinanti civitas akademika IPDN. Sebagai tokoh bangsa, lanjutnya, pengalaman dan perjalanan politik Megawati begitu luar biasa.

Tjahjo mengungkapkan, Proklamator sekaligus Presiden pertama RI, Soekarno merupakan pendiri Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) atau yang kini dikenal dengan IPDN. Soekarno yang juga ayah Megawati, mendirikan sekolah kepamongprajaan pertama tersebut di Malang, Jawa Timur pada 1956.

Pemberian gelar doktor HC untuk Megawati hari ini bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional. Rektor IPDN, Ermaya Suradinata mengatakan, Megawati menjadi panutan seluruh perempuan Indonesia dan menjadi figur perempuan tangguh.

“Sosok yang banyak memberi inspirasi,” kata Ermaya.

Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengatakan, keluarga besar PDIP sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada civitas akademika IPDN. Gelar doktor HC untuk Megawati yang juga ketua umum PDIP menjadi kebanggaan tersendiri bagi seluruh jajaran hingga kader partai.

Kualitas kepemimpinan dan kiprah Megawati terbukti memang diakui berbagai pihak, termasuk kalangan akademisi. Hasto menuturkan, gelar doktor HC dari IPDN merupakan yang ketujuh. Empat diberikan oleh universitas luar negeri, yakni Jepang, Rusia dan Korea Selatan (dua) serta tiga dari perguruan tinggi dalam negeri.

“Gelar kehormatan dalam bidang politik pemerintahan tersebut sebagai pengakuan atas jasa Ibu Megawati Soekarnoputri yang mampu menjalankan politik pemerintahan yang demokratis, stabil dan efektif di dalam menjalankan agenda reformasi, termasuk mengatasi berbagai krisis multidimensional saat itu,” kata Hasto.

Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (pilpres) pada 2004, salah satu sumbangsih Megawati dalam kehidupan demokrasi. “Di masa Ibu Megawati juga lah demokrasi yang sebenar-benarnya terjadi dengan penyelenggaraan Pemilu Presiden one man one vote (satu orang satu suara),” ujarnya.

Sumber: Suara Pembaruan

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *