Studi: Obat Penurun Kolesterol Sedikit Meminimalisir Risiko Serangan Jantung dan Kematian Akibat Serangan Jantung

Obat penurun kolesterol yang baru, yang digunakan bersamaan dengan obat statin yang telah ada, dapat sedikit menurunkan risiko serangan jantung dan kematian akibat serangan jantung menurut sebuah studi para penyintas serangan jantung skala besar yang dapat mendorong perusahaan asuransi untuk menanggung biaya perawatan yang mahal lebih sering lagi.

Hasil studi terhadap obat ini, Praluent, diumumkan hari Sabtu di sebuah konferensi American College of Cardiology di Floriida. Ini adalah pertama kalinya obat penurun kolestrol diklaim dapat mengurangi tingkat kematian sejak diperkenalkannya obat statin seperti Lipitor dan Crestor puluhan tahun yang lalu.

“Ini adalah pencapaian tertinggi; ini yang penting bagi para pasien,” ujar penulis utama studi ini, Dr. Philippe Gabriel Steg dari Hospital Bichat di Paris.

Namun manfaatnya sedikit – 167 orang harus mengkonsumsi Praluent selama hampir tiga tahun untuk mencegah satu kematian.

“Biayanya tinggi” yang masih dapat membuat orang enggan mengkonsumsinya, ujar seorang pakar independen, Dr. Amit Khera, seorang kardiologis preventif dari UT Southwestern Medical Center di Dallas dan seorang jurubicara untuk the American Heart Association.

Produsen obat ini, Sanofi dan Regeneron Pharmaceuticals, menjadi sponsor studi ini dan menyatakan mereka akan bekerja sama dengan perusahaan asuransi terkait harga pembelian obat untuk mereka yang paling membutuhkannya.

Tentang studi ini

Fokus para dokter adalah untuk menurunkan LDL, atau kolesterol jahat, untuk mencegah masalah dengan jantung. Statins adalah obat utama untuk ini, namun ada orang yang tidak tahan dengan obat ini atau mendapatkan cukup manfaat dari obat ini.

Praluent dan obat serupa, Repatha buatan Amgen, bekerja dengan cara yang berbeda dan mampu menurunkan kolesterol dalam jumlah yang lebih besar. Pasien menerima suntikan obat ini sekali atau dua kali dalam sebulan. Obat-obatan ini telah dijual sejak tahun 2015 namun harganya lebih dari $14.000 per tahunnya, dan perusahaan asuransi menunjukkan keraguan untuk membayar tanggungan tanpa adanya bukti bahwa obat-obatan ini mengurangi masalah kesehatan, tidak hanya jumlah kolesterol.

Tahun lalu, sebuah studi menunjukkan Repatha mengurangi masalah jantung namun tidak menunjukkan tingkat penyintas yang lebih tinggi. Studi yang baru menguji obat pesaingnya, Praluent, untuk masa yang lebih panjang pada para pasien dengan risiko yang lebih tinggi, hampir 19.000 orang yang tahun sebelumnya terkena serangan jantung atau mengalami nyeri di dada yang cukup serius yang membuat mereka harus dirawat di rumah sakit.

Keseluruhan pasien itu memiliki tingkat LDL lebih dari 70 meskipun mereka telah mengkonsumsi dosis tertinggi obat statin. Separuh dari mereka diberi Praluent dan sisanya, suntikan obat palsu. Awalnya Praluent diberikan dengan dosis rendah dan kemudian dengan dosis yang lebih tinggi apabila tingkat LDL tidak berkurang dari 50.

Setelah hamir tiga tahun, 9,5 persen dari mereka yang diberikan Praluent dan 11,1 persen yang diberikan obat palsu terkena serangan jantung, stroke, kematian terkait masalah janting dan nyeri dada serious; 3,5 persen yang diberikan Praluent dan 4,1 persen yang diberi obat palsu mengalami kematian.

Maknanya risiko berkurang menjadi 15 persen apabila mengkonsumsi Praluent. Manfaat yang dirasakan lebih besar bagi mereka yang tingkat LDL nya 100 atau lebih di awal studi. Obat ini tidak memiliki efek yang membahayakan.

Apa pendapat dokter

“Kita perlu berpikir ulang tentang ekspektasi yang kita miliki” dan menyadari bahwa manfaat dari obat baru apapun akan lumayan rendah apabila ditambahkan pada perawatan yang sudah tergolong baik, seperti statin, ujar Dr. Jeffrey Kuvin, ketua konferensi dan kepala kardiologis di Dartmouth-Hitchcock Medical Center. Obat ini jelas dapat membantu mereka yang berisiko tinggi namun tidak ditujukan untuk mereka dengan risiko rendah, seperti mereka yang memiliki tingkat kolestrol yang tinggi namun belum pernah terkena serangan jantung, ujarnya.

“Saya telah kehilangan keyakinan” tentang manfaat obat ini namun sekarang mungkin dapat memberikan resep ini untuk pasien-pasien tertentu dengan risiko yang amat tinggi, ujar kardiologis dari Duku University, Dr. Christopher Granger. Namun mencegah kurang dari satu masalah jantung setahun dengan harga obat yang ada sekarang ini dari segi harga dapat dikatakan tidak efektif, ujarnya.

Tekanan pada tingkat harga

Sebuah kelompok independen, the Institute for Clinical and Economic Review, hari Sabtu merilis sebuah kisaran tentang harga yang layak bagi Praluent, berdasarkan hasil-hasil yang baru, $2.300 hingga $3.400 per tahun untuk pasien seperti yang digambarkan dalam stjudi. Kisaran harga antara $4.500 hingga $8.000 per tahun akan pantas untuk pasien dengan risiko tinggi, dengan tingkat LDL lebih dari 100.

Dari 300.000 hingga 400.000 orang di AS setiap tahunnya masuk dalam kategori kedua. Produsen obat Praluent menyatakan mereka berusaha untuk menekan harga hingga mendapat harga jual dalam kisaran harga tersebut untuk perusahaan asuransi yang menghilangkan halangan bagi pertanggungan orang-orang dengan risiko tertinggi. [ww]

Sumber : voaindonesia.com

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *