BPJS Kesehatan Perlu Jelaskan Penghapusan Obat Trastuzumab

Jakarta, Pasien dan penyintas kanker payudara yang menjalani terapi dengan menggunakan obat trastuzumab ­meminta BPJS Kesehatan menjelaskan penghapus­an obat tersebut dari program Jaminan Kesehatan Nasional-kartu Indonesia sehat (JKN-KIS).

“Terus terang saya sampai saat ini tidak menemukan alasan yang tepat kenapa trastuzumab dikeluarkan dari daftar obat yang dijamin. Kalau dianggap tidak efektif, sebagai gantinya yang efektif apa? Itu pun tidak ada jawaban yang jelas,” ujar Shanti R Pershada, salah satu pendiri Yayasan Lovepink yang bergerak di bidang kanker payudara di Jakarta, kemarin.

Shanti merupakan salah satu penyintas kanker ­payudara yang dapat sembuh dengan bantuan obat trastuzumab. Dia didiagnosis kanker payudara ­stadium 3B pada 2010 lalu. Diakuinya, obat tersebut memang mahal, harga satu ampul dapat mencapai lebih dari Rp20 juta. Seorang pasien kanker payudara ­membutuhkan minimal delapan kali periode terapi.

“Mungkin karena trastuzumab mahal dan menyebabkan BPJS keteteran, keluarlah keputusan tersebut,” tutur Shanti.

Dia tidak memungkiri salah satu penyebab BPJS ­Kesehatan menanggung biaya besar ialah pengobatan untuk kanker. Kebanyakan pasien kanker payudara baru berobat ke rumah sakit saat kondisi mereka ­sudah stadium lanjut.

Oleh karena itu, dia dan rekan-rekannya gencar mengampanyekan pencegahan serta deteksi kanker payudara melalui gerakan sadari (periksa payudara sendiri) dan sadanis (periksa payudara secara klinis). (Ind/H-2)

mediaindonesia.com

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *