Dimarahi dan Difitnah, Oke Saya Tidak Marah

Semarang, Memiliki elektebilitas tinggi yang melebihi 62 persen untuk calon gubernur Jawa Tengah, tidak membuat Ganjar Pranowo jumawa. Ia memiliki prinsip rendah hati. “Saya juga memiliki banyak kekurangan, dan itu lumrah,” kata Gubernur Jawa Tengah.

Bahkan diserang, difitnah, dan dicacimaki pun ia menerimanya dengan lapang dada. Termasuk ketika ia dituding menista agama karena membacakan puisi KH Musthofa Bisri (Gus Mus) berjudul ‘Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana?’

Tudingan mencuat melalui postingan host salah satu program acara TV One Damai Indonesiaku Muhammad Agung Izzulhaq. Dalam akun twitternya @agungizzulhaq menyebut puisi yang dibacakan Ganjar menghina Islam dan penciptanya adalah orang dungu.

Belakangan Agung menyesali postingannya. Ia meminta maaf kepada Gus Mus dan Ganjar. Kendati telah merusak nama baiknya, Ganjar memilih memaafkannya. “Wong dia sudah minta maaf,” kata Ganjar.

Ganjar tak gampang panas lantaran selalu mengikuti petunjuk arah dari almarhum ibunya, Sri Suparmi. Apa saja itu? Berikut adalah petikan percakapan wartawan BeritaSatu.com, Nurlis E Meuko, dengan Ganjar di Semanggi, Jakarta, pekan lalu.

Filosofi apa yang menjadi pegangan Anda dalam memimpin di Jawa Tengah?
Semua pemimpin mempunyai filosofi, saya seorang muslim, maka saya menjalankan amanah dengan baik. Lalu yang kedua, saya selalu dibisikkan oleh ibu saya untuk selalu jujur, berikutnya melayani. Dan semua itu harus dilakukan dengan senang, jika tidak maka kamu tersiksa.

Ketika saya ke Blora, seseorang memberikan kaos (t-shirt) yang langsung saya pakai, di situ ada kalimat “jangan lupa bahagia” di situ. Kalimat itu saya senang sekali,

Jadi jika senang dan bahagia melakukannya, maka pemerintah itu asyik dan politik itu menarik. Itulah sebabnya mengapa saya bisa chit-chat menggunakan media sosial dan menjawab langsung pertanyaan publik, dan dalam melaksanakannya pun terasa enteng.

Mengapa Anda sangat terpesona dengan ibu kandung?
Saya merasa tenang bersama beliau, bukan berarti bersama Bapak (Pamuji) tidak, ibu saya tidak berpendidikan tinggi, beliau hanya lulusan SMP, tapi apa yang beliau sampaikan kepada saya, pesan-pesannya selalu faktual, selalu memproteksi saya dari hal-hal yang bahaya, selalu mendorog saya untuk mencapai cita-cita.

Pesannya, Lek prihatin yo, nggak boleh tamak, sederhana. Nah yang seperti ini membikin hidup kita tidak kemerunsung, tidak tergesa-gesa. Sebenarnya ini adalah bicara menerima anugerah Allah dengan ikhlas.

Apakah dapat dikatakan Anda memimpin laksana seorang ibu?
Iya ketika saya terpilih, bapak saya sudah pikun. Jadi nggak ngerti, sampai meninggal beliau nggak tahu saya sudah menjadi gubernur. Ibu saya meninggal lebih dahulu. Saya dipeluk setelah terpilih, beliau memesan “hati-hati yo lek memimpin” itu bahasanya jangan korupsi.

Terus satu hal yang sampai kini saya lakukan adalah menghadiri undangan acara teman-temannya ibu. Sebenarnya bukan temannya ibu, tetapi saya terjemahkan itu adalah rakyat. Jadi setiap ada acara maka saya datang, maka kadang saya membuat kejutan.

Di twitter, pernah saya baca, ada yang menulis status “bagaimana ya jika tiba-tiba gubernur datang dalam pesta perkawinan saya. Dan saya datang, dan dia kaget meninggalkan pasangannya di pelaminan dan histeris dan minta foto.

Apakah mendatangi rakyat laksana mengunjungi Ibu?
Saya terjemahkan bahwa rakyat itu adalah teman ibu saya. Jadi setiap Rabu-Kamis saya keliling Jawa Tengah untuk menemui mereka. Jadi seperti mendatangi keluarga.

Menjadi ibu itu ngemong. Nah, ibu ngemong kita yang kadang-kadang anaknya juga protes. Tetapi apakah ibu pernah marah sama kita, tidak kan. Maka itu, saya dimarahi dan dicacimaki, oke, saya tidak marah.

Ya, saya harus memerankan itu, meskipun kamu marah-marah, maka saya terimalah sebagai ketidaksempurnaan saya. Tetapi saya tetap harus melindungi kamu, memperhatikan kamu, mengayomi kamu, dan membikin kamu agar jangan lapar. Begitulah seorang ibu.

Sebagai gubernur, maka pencapaian seperti apa yang memuaskan Anda?
Kepuasan saya, ketika ada komplian dan saya menanganinya, dan dia bilang terimakasih.

Bukannya kemenangan Pilkada yang membuat Anda puas?
No. Itu terlalu kecil bagi saya. Mau menang satu persen atau 79 persen, itu adalah menang. Pertanyaannya, setelah menang kamu mau ngapain. Ngapain sih saya membuka akun twitter 24 jam lalu pas saya melek saya jawab semua pertanyaan. Ngapain sih saya menjawabnya sendiri, wong dicacimaki?

Saya itu sudah menikmati pekerjaan saya. Saya berikan contoh, seorang guru tidak tetap di Cilacap ingin membelikan sepatu untuk anaknya, namun ia tidak mampu, kemudian dia foto sepatunya di atas meja lalu dikirim ke medsos termasuk ke saya.

Bagaimana respon dari warganet, sebagian menyebutkan “kasihan ya”. Siapa yang mau bantu? Saya lihat belum ada. Lalu saya minta nomor telepon guru itu, langsung saya telepon, saya tanya kalau beli sepatu harganya berapa, dia bilang Rp100 ribu, lalu saya kirimkan uang Rp150 ribu.

Besoknya dia beli sepatu itu. Lalu difotonya anaknya memakai sepatu baru dan mencium tangannya saat hendak berangkat sekolah, di situ dia tulis terimakasih pak gubernur. Saya senang sekali.

Dan yang menarik, salah satu produsen sepatu meneleponnya dan mengatakan bersedia memberikan sepatu, dan dia tidak mau menerimanya, dan mengatakan sudah cukup.

Dan itu terjadi dalam banyak hal yang saya suka lakukan.

Bukankah itu bermakna cuma memberi ikan tanpa pancing?
Karena Anda berbicara soal kepuasan seperti itu yang akan saya rasakan, maka saya memberikan contoh yang real dan konkrit. Agar Anda bisa melihatnya dalam timeline akun twitter saya.

Mengapa Anda tidak memberikan kail?
Mas, setiap orang tidak mampu yang saya temui di Jawa Tengah, saya bertanya “mengapa usahanya tidak dimajukan?” Mereka mengatakan tidak punya modal. Lalu mereka bilang, “bapak dong kasih bantuan.” Lalu saya jawab, “oh nggak dong, kalau saya berikan bantuan pasti habis.”

Lalu saya bertanya, “ibu mau nggak ngutang pada saya tanpa ada jaminan?” Mereka mau. Maka Bank BPD Jateng saya panggil dan saya minta memberikan skim khusus untuk usaha kecil dan mikro, bukan menengah. Lalu muncullah suku bunga 7 persen, dan itu terendah di Indonesia.

Dan itulah kemudian yang kami berikan kepada pedagang pasar, petani, dan nelayan, dengan tanpa jaminan. Plafonnya maksimun Rp25 juta. Maka itulah dia pancing yang saya berikan. Hari ini, ketika saya melihat usaha mereka berkembang, maka selesailah mas.

Apakah itu memuaskan Anda sebagai seorang gubernur?
Waduh mas, saya sangat-sangat memuaskan hati saya mas. Ketika mendengarkan mereka melaporkan hasil usaha kecilnya, dengan menyebutkan modalnya berapa, hasil usahanya berapa, dan keuntungannya berapa, saya sangat senang mendengarnya, walau hati kecil saya sebetulnya terenyuh juga melihat mereka.

Lalu, kepuasan seperti apa yang belum Anda peroleh selama menjadi gubernur?
Aduh mas, terlalu banyak kalau saya sebutkan, sebab saya terlalu banyak kekurangan. Tetapi hari ini, kalau kita bicara indeks dan statistik, pasti soal kemiskinan. Kendati jika Anda baca statistik 2017 di Jawa, maka penurunan angka kemiskinan tertinggi itu di Jawa Tengah. Maka ini yang saya genjot.

Kalau saya berbicara soal ketidakpuasan yang lain ada dua, yaitu bagaimana kami terus melayani dan pemerintahan yang bersih. Saya ingin menurunkan pemerintahan bersih sampai ke seluruh kabupaten.

Apa yang akan Anda lakukan dalam lima tahun ke depan?
Pemerintah yang bersih dan melayani. Birokrasi yang bersih dan melayani akan menyelesaikan semua persoalan. Kalau bersih, pasti anggarannya tidak dikorup dan bantuan akan sampai ke masyarakat dan tidak ada distorsi-distorsi oleh kepentingan individual yang negative. Kalau melayani, pasti responsif, maka sebenarnya itulah sebenarnya kepuasan masyarakat. Masyarakat minta dilayani.

Apakah ada satu program yang menjadi unggulan?
Ya itu investasi yang diimbangi dengan debirokratisasi, yaitu mudah, murah dan cepat. Jika ini tidak terwujud maka no way.

Setelah menjadi gubernur, Anda ingin menjadi apa?
Bapak saya pernah ngomong, jabatan jangan pernah kamu kejar. Tetapi ketika amanah itu diberikan kepada kamu maka laksanakanlah dengan sebaik-baiknya.

Sumber: BeritaSatu.com

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *