Lewat kata-kata, Pramoedya ‘merasuki’ pemikiran anak muda

Merdeka.com – Pada 30 April 2018, telah genap 12 tahun lamanya sastrawan Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia. Namun namanya tak akan pudar dalam catatan sejarah kesusastraan Indonesia. Namanya begitu melekat sebagai sastrawan kaliber dunia. Tengok saja karya monumentalnya, Bumi Manusia yang telah dialihbahasakan ke berbagai bahasa di dunia.

BERITA TERKAIT

    Buah pikiran dan karya Pram tak hanya membawa para pembaca pada fase sejarah perjalanan bangsa Indonesia di masa kolonial. Melalui karyanya, Pram mengajarkan makna hidup luar biasa. Tetralogi Pulau Buru contoh nyata. Dia tetap hidup melalui karya yang ditulis saat berada di bawah tekanan rezim pemerintah saat itu.

    Pram menulis dari Pulau Buru. Tempat dia diasingkan dan dipenjara. Dianggap menentang pemerintah. Tempat pengasingan yang jauh dari kata layak justru membuatnya hidup dan produktif. Menghasilkan karya terbaik.

    “Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu penulis terbaik dari penulis-penulis Indonesia. Dia yang terbaik karena bisa menangkap kehidupan dan itu yang dituangkan dalam naskah-naskahnya. Dia pandai menangkap hidup dan menuangkannya dalam kehidupan untuk diketahui dan dinikmati kita semua, bangsa Indonesia,” kata seniman Jajang C Noor ditemui di acara pameran The Solitide; Pram and the Art of Writing di Galeri Indonesia Kaya, West Mall Grand Indonesia, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa (17/3).

    Penjara tak berhasil mengurung kebebasan berpikir Pramoedya. Penjara justru memperkuat karakter Pram.

    “Pram itu tokoh yang penuh pengalaman. Dirinya tidak semulus kehidupannya dalam masalah-masalah kemarin. Ada masalah politik, beliau di-Pulau Buru-kan tapi beliau jalankan. Itu sudah selesai,” ujar aktor Slamet Rahardjo.

    Pram mengajarkan bahwa tak seharusnya menyerah pada kehidupan. Seburuk apapun pengalaman hidup menimpa kita. Justru melalui pengalaman pahit dalam kehidupan itulah, membentuk menjadi manusia berkarakter.

    “Penjara itu yang menciptakan kita. Keterbatasan yang menciptakan kita. Orang boleh dalam penjara tapi kalau pemikirannya bebas, penjara hanya sementara, hanya tempat tidur sementara. Kalau dia berpikiran tak ada harapan lagi, dia sudah dipenjara oleh ketakutannya sendiri,” jelasnya.

    Pram juga tak dimanjakan keadaan. Kendati merasakan hidup semakin berat. Digerogoti penyakit dalam pengasingan. Gagasan dan pemikiran hidup ingin ditanamkan Pram melalui karya-karyanya.

    “Pram memberi gagasan di mana yang terpenting adalah mindset. Kalau kamu katakan aku bisa dan mampu maka barengilah dengan kerja keras,” kata dia.

    Anak keempat Pramoedya, Astuti menyebut karya-karya ayahnya sebagai pengingat sejarah bagi generasi muda. Itulah yang menjadi motivasinya melahirkan karya-karya berlatar belakang politik kolonial.

    “Jadi Pram menulis dengan harapan untuk anak-anak muda dan generasi yang akan datang akan semakin tahu akan sejarah. Kalau bangsa ini tidak tahu tentang sejarah akan jadi apa nantinya?” jelasnya.

    Astuti memegang teguh dan mengingat betul pesan ayahnya. Kutipan-kutipan di buku-buku Pram terpatri dalam ingatannya. Pesan yang paling diingat, hidup tak boleh bergantung pada orang lain.

    “Semua itu harus dijalani. Jangan pernah minta-minta. Semua harus mandiri,” jelasnya tentang pesan Pram yang selalu diingat.

    Nilai-nilai yang disampaikan Pram kemudian ingin diperkenalkan kepada para generasi muda, generasi milenial. Memasuki 12 tahun kepergian sastrawan kelahiran Blora, Jawa Tengah itu, Titi Mangsa Foundation menggelar pameran The Solitide; Pram and the Art of Writing yang bertujuan mendekatkan sosok Pram kepada generasi muda. Pembukaan pameran digelar di Galeri Indonesia Kaya, West Mall Grand Indonesia, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa (17/3). Pameran di Galeri Indonesia Kaya akan berlangsung sampai 2 Mei mendatang. Pameran juga diselenggarakan di Dia.Lo.Gue Art Space, Kemang, Jakarta Selatan.

    Aktris Happy Salma melihat, Pram sudah masuk ke pikiran anak muda. Melalui kutipan-kutipan dari karya-karyanya.

    “Banyak yang mulai kenal lewat quote-quote-nya yang dahsyat itu. Tapi kalau saya melihat dan mewawancarai banyak orang, banyak anak muda yang belum baca bukunya tapi hafal quote-nya,” kata dia.

    Itu bukan masalah. Kutipan-kutipan itu bisa menjadi perkenalan awal anak muda terhadap Pram yang kemudian penasaran dengan buku-bukunya. Disayangkan jika generasi muda Indonesia tak mengenal buku-buku Pram. Sementara buku-buku itu telah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Seperti Norwegia, Rusia, Inggris, Turki dan lainnya.

    Happy kagum dengan sosok Pram dan karya-karyanya. Buku Pram yang paling disukainya adalah Gadis Pantai.

    “Itu artinya dia diakui oleh dunia sebagai penulis yang baik. Kita bangga Indonesia memilikinya. Sayang sekali kalau kita tidak mengapresiasi kehebatan beliau,” kata pemeran Nyai Ontosoroh ini.

    Dalam pentas teater Bunga Penutup Abad, Happy memerankan Nyai Ontosoroh. Bunga Penutup Abad merupakan lakon teater yang diadaptasi dari Tertralogi Pulau Buru khususnya Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. [noe]

    merdeka.com

    Facebook Comments

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *