Hardiknas 2018, Momen Bagi Guru untuk Merenung dan Merefleksikan Diri

Jakarta, Mengingat momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), membawa ingatan pada tokoh pendidikan Indonesia bernama R. M. Suwardi Suryaningrat atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara.

Peringatan Hardiknas pun didasarkan atas tanggal kelahirannya, yaitu 2 Mei 1889. Pemikiran, gagasan, dan konsep Ki Hajar Dewantara dalam pendidikan menjadi acuan bagi pembangunan pendidikan Indonesia. Salah satu pemikirannya adalah penyelenggaraan pendidikan harus berdasarkan asas konstitusional, konvergen, dan konsentris. Dalam arti yang lebih luas, proses pendidikan harus berkelanjutan, terpadu, dan berakar.

Berbicara tentang pendidikan, tentu kita tidak terlepas dari sosok guru sebagai salah satu komponen penting dalam pendidikan. Peran guru bukan hanya sebagai subyek yang mentransfer ilmu kepada peserta didiknya, tapi lebih dari itu. Di atas pundaknya tersimpan tanggung jawab yang besar.

Untuk menyiapkan generasi-generasi emas Indonesia yang mampu berperan dalam pembangunan Indonesia di masa datang. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan Presiden Presiden Joko Widodo atau Jokowi pada peringatan Hari Guru Nasional 2017. “Guru itu bukan hanya sekadar pekerjaan, tapi guru adalah menyiapkan sebuah masa depan,” katanya.

Kompetensi guru inilah yang menjadi salah satu fokus perhatian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Satu upaya yang telah dilakukan Kementerian Pendidikan melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) untuk meningkatkan kompetensi guru adalah, melaksanakan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB).

Sudah saatnya guru memacu diri agar meningkatkan kompetensinya. Sehingga dapat menghadirkan pendidikan yang lebih berkualitas di Indonesia, untuk mewujudkan babak baru pendidikan Indonesia yang lebih bermartabat di dunia gobal.

Melalui momen Hardiknas 2018 ini, para guru kembali merenungi dan melakukan refleksi diri. “Sudahkah saya memiliki kompetensi sebagai guru secara utuh? Apakah yang harus saya lakukan untuk menjadi guru yang kompeten? Dapatkah saya mengimplementasikan cita-cita Ki Hajar Dewantara dalam mewujudkan guru yang kompeten dalam menghadirkan pendidikan berkualitas?” Mari kita jawab bersama-sama. (*)

nasional.tempo.co

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *