Korban Penggusuran Bekasi Gelar Panggung Rakyat

Kota Bekasi. Forum Korban Penggusuran Bekasi (FKPB) beserta elemen pemuda dan mahasiswa seperti Aliansi Mahasiswa Se Bekasi dan komunitas-komunitas pemuda mahasiswa Bandung serta elemen organisasi gerakan rakyat lainnya menggelar Panggung Rakyat  sabtu (12/5).

Pangung rakyat mengusung judul  “Kau gusur Kami gusar”  ini adalah bentuk dari rangkaian protes terhadap penggusuran paksa yang dilakukan oleh pemerintah kota bekasi terhadap warga Pekayon dan Jakasetia Kota Bekasi pada tanggal 25 November 2016.

Penggusuran paksa yang menimpa ratusan kepala keluarga dengan luas lahan lebih dari tujuh hektar tersebut sampai berita ini diterbitkan belum kunjung menemukan solusi.  Puluhan warga korban penggusuran sampai hari ini terpaksa harus tinggal di posko yang mereka bangun secara swadaya di lokasi sisa penggusuran tersebut.

Hal tersebut mengingatkan kita dengan Kampung Aquarium Jakarta Utara, namun jika warga kampung Aquarium Jakarta Utara sudah mendapatkan kepastian tentang status tempat tinggalnya maka warga di Pekayon dan Jaka Setia masih tak menentu.

Acara panggung rakyat ini diisi dengan berbagai kegiatan yaitu dialog publik, perform art, musikalisasi puisi, musik solidaritas, sablon donasi, edu playing, orasi politik dan pernyataan sikap, paduan suara, lapakan buku,  serta life mural. Acara panggung rakyat yang dihadiri oleh 200 orang dan dimeriahkan oleh berbagai komunitas dari berbagai daerah seperti Atap Alis, Muntah Kucing, Omah juju, Perpus Banjaran, Indiesplay, Regu Musiman, Sastra Kalimalang,KPJ, Ijaab Sartje, serta Komunitas Kata sandi.

Sesi dialog publik dalam panggung rakyat ini menghadirkan tiga pemateri yaitu Abinoto Nababan yang merupakan ketua FKPB, Ramdan Gazali Muchtar Sekjen Perhimpunan Rakyat Indonesia, serta Marully Tua Rajagukguk eks pengurus LBH Jakarta.

Dalam pemaparannya abinoto menyebutkan bahwa penggusuran yang dilakukan oleh pemkot bekasi telah melanggar aturan dan merupakan perbuatan yang sewenang-wenang.  “Pada saat penggusuran paksa dilakukan proses sosialisasi belum tuntas dilakukan, selain itu pada saat penggusuran terjadi pemerintah kota bekasi melangkahi Perum Jasa Tirta II sebagai pengelola tanah yang di berikan kuasa oleh Kementrian PUPR”.

Sementara Sekjen Perhimpunan Rakyat Indonesia, Ramdan Ghazali  menegaskan bahwa tidak ada yang bisa dibenarkan dari penggusuran yang dilakukan secara paksa.  “Amanat UUD 1945 dan Pancasila sudah sangat jelas apa yang menjadi kewajiban pemerintah dan apa yang menjadi hak rakyat Indonesia”

Bahwa cita-cita Proklamasi kemerdekaan adalah mewujudkan masyarakat yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur, Keadilan sosial tepatnya.  “Penggusuran yang terjadi ini sudah sangat jauh mencederai nilai-nilai kemanusiaan, tidak selayaknya dalih pembangunan dan penataan yang semestinya adalah untuk kesejahteraan rakyat justru mengorbankan dan menyisakan penderitaan bagi rakyat”  tutup Ramdan.

Lanjut dalam dialog itu Marully mengecam apa yang dilakukan oleh pemerintah kota bekasi dibawah kepemimpinan rahmat effendi sebagai perbuatan melanggar hak asasi manusia. Sebab dampak dari penggusuran itu sendiri sangat luas, terutama sekali memperburuk kondisi ekonomi,  sosial,  dan psikologis bagi korbannya.  Penggusuran paksa yang di dalamnya adalah perampasan dan perusakan bangunan adalah pelanggaran pidana.

“Proses administrasi  yang terlewatkan sehingga berakibat pada kerugian untuk rakyat adalah nyata perbuatan melawan hukum dan tentunya pemerintah kota bekasi baik itu eksekutif maupun legislatif harus segera bertanggung jawab membayar segala kerugian yang di derita oleh rakyat.” Pungkasnya.

Seperti yang kita ketahui bersama, aksi panggung rakyat ini bukanlah gelaran pertama yang dilakukan oleh warga korban penggusuran Bekasi. Sebelumnya FKPB dan Amunisi serta berbagi gerakan pemuda dan mahasiswa lainnya intensif melakukan berbagai upaya baik itu aksi maupun audiensi.

Selama proses perjuangan berlangsung sampai hari ini sudah 4 (empat) orang warga korban penggusuran yang meninggal dunia. (teh)

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *