Kenapa SBY selalu merengek ingin Ketemu Megawati?

oleh R. Donny Adam

Apakah Megawati dendam terhadap SBY sehingga dikesankan tidak mau salaman. Atau karena Megawati sakit hati akibat dikalahkan. Tidak ada persoalan pribadi antara Megawati dan SBY.

Kalau berbicara sakit hati, problem dengan Pa Harto jauh lebih besar, dan menciptakan luka lebih dalam. Terhadap Pa Harto pun, Megawati tetap menaruh hormat, karena bagaimanapun adalah seorang presiden.

Dengan demikian karena tidak ada persoalan pribadi, maka menurut analisis saya, ada persoalan lain yang lebih mendasar persoalan karakter, persoalan ideologi, dan persoalan tanggung jawab pemimpin. Harus dilihat bahwa Megawati memahami psikologi.

Sejak awal Megawati yakin bahwa pekerjaan rumah bagi SBY adalah bagaimana menjadi pemimpin. Pemimpin itu berani mengambil keputusan. Pemimpin itu tidak bersembunyi ketika ada masalah, dan kemudian baru muncul ketika berhasil.

Ada beberapa kejadian, yang menurut saya, mengapa Megawati bersikap seperti itu terhadap SBY. Pertama, ketika Megawati menjadi presiden, maka melalui amandemen IV, Pemilihan Presiden dilakukan secara langsung. Atas keputusan TAP MPR tsb, maka Megawati sebagai mandataris MPR, memerintahkan menko Polkam untuk mempersiapkan pemilu presiden tersebut akan berjalan secara demokratis.

Saat itu kehidupan perekonomian nasional masih sulit. Maka dalam kondisi anggaran yang ketat, Megawati hanya mengijinkan satu-satunya menteri yang boleh membangun gedung hanya Menko Polkam. Belakangan kantor yang harusnya dipakai untuk mempersiapkan pemilu negara tersebut, ternyata dipakai untuk kepentingan pribadi. Mempersiapkan sebagai capres.

Kedua, mengapa atas kerusuhan Ambon, Megawati justru menugaskan Sarundayang, dan penyelesaian Poso, Megawati menugaskan Jusuf Kala. Kemana SBY sebagai menkopolkam saat itu? Jawabannya jelas, ketika ada masalah, SBY menghindar. Pernah suatu ketika dalam upaya menciptakan perdamaian di Maluku.

Beberapa hari lamanya Megawati ditemani beberapa Menteri, termasuk SBY, tinggal di Kapal Selam. Kemudian dilakukan inspeksi ke Maluku utara. Resiko sangat tinggi karena konflik masih kuat terjadi. Megawati pun kemudian meninjau secara langsung, dan SBY tetap berada di kapal selam.

Ketiga, Dalam suatu rapat Kabinet, diambil keputusan bahwa menghadapi aksi separatisme di Aceh, maka rapat memutuskan diambil tindakan militer. Menko Polkam bertugas memimpin. Intelijen telah memberikan data yang sangat akurat terhadap konsentrasi kekuatan GAM. Namun beberapa hari, bahkan sekitar lebih dari 1 minggu setelah perintah presiden, ternyata instruksi itu tidak dijalankan.

Sekretaris Militer Presiden, TB Hasanudin, kemudian memberikan surat perintah presiden sesuai keputusan Rapat Kabinet. Pada saat surat itu diterima, GAM sudah menghilang. Operasi bocor. Ini adalah bukti adanya tindakan desersi.

Keempat, dalam jeda kemanusiaan atas masalah ACEH yang dilaksanakan di jepang. SBY sebagai Menkopolkam juga menghilang.

Kelima, Dalam rapat terbatas, hanya beberapa bulan sebelum pemilu. Megawati menanyakan satu persatu, siapa jajaran kabinetnya yang akan mencalonkan sebagai capres.

Ditanyalah Pak Hamzah Haz yang pada saat itu juga menjabat sebagai ketua umum partai. “Pak Hamzah, mau nyalon tidak”, tanya Megawati. Jawab pak Hamzah, “Sekiranya Muktamar memutuskan untuk mencalonkan saya, mohon ijinnya Ibu Presiden”. “Yo wis”, kata Megawati. Menteri lain pun ditanya seperti Yusril yang ketika itu juga sebagai ketua umum partai. Semua menjawab dengan berani. Setelah Megawati menanyakan kebeberapa orang menteri lain, beliau ingin ke toilet dan mendelegasikan jalannya rapat ke Hamzah Haz.

Ketika tiba giliran SBY, dan Hamzah Haz menyampaikan pertanyaan yang sama, SBY dengan muka merah menjawab, “Saya tidak akan mencalonkan sebagai Presiden itu kata media”. Begitu Megawati kembali dari toilet, Hamzah Haz sudah kelar menanyai semua peserta rapat.

Setelah mendapatkan laporan disaat acara makan siang bersama, disitulah Megawati semakin paham bahwa diam-diam SBY punya rencana dan telah mengkonsolidasikan timnya, seperti di kantor Menkopolkam.

Yang disayangkan, SBY tidak berani secara gentle mengatakan didepan Megawati. Demikian halnya terhadap kebijakan strategis lainnya seperti kebijakan energi, dan politik luar negeri.

Nampak ada perbedaan yang sangat fundamental antara megawati dan SBY. Jadi persoalan antara Megawati dan SBY adalah persolan yang sangat ideologis. Megawati lebih memilih mengambil resiko sebagai pemimpin dari negara berdaulat. Sebaliknya, SBY lebih kompromis dan menjadi good boy. Megawati dengan keras mengeluarkan Inpres untuk tidak melakukan impor beras, sebaliknya SBY melakukan liberalisasi pertanian, sehingga Indonesia tergantung apda suplai pangan dunia.

Dalam situasi normal, jika Megawati memang menzolimi SBY sebagaimana dicitrakan pada kampanye Pilpres tahun 2004, pertanyaan bodohnya, seharusnya yang pengen ketemu Sby adalah Megawati. Tetapi mengapa kondisi justru terbalik? Publik juga mencatat, meskipun SBY menjadi capres, Megawati tetap tidak mengganti Pramono Eddy sebagai Ajudan Presiden.

tulisan telah tayang dalam laman facebook penulis https://www.facebook.com/ramonddony/posts/10216880192304169

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *