Jelang Pencalonan Capres/Cawapres KH. Ma’ruf Amin Sambangi Istana

JAKARTA – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia ( MUI) KH Ma’ruf Amin mendatangi Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/8/2018) siang.

Ma’ruf terpantau tiba kompleks Istana sekitar pukul 14.03 WIB bersama asistennya. Ia masuk ke Istana lewat pintu yang biasa menjadi tempat masuk tamu.

Asisten Ma’ruf sempat mengisi daftar absensi tamu. Wartawan yang melihat kehadiran Ma’ruf pun menunggu di ujung pintu keluar untuk melakukan wawancara. Namun, Ma’ruf tak kunjung keluar dari ruang pengisian buku tamu

Saat wartawan mengecek ke meja absensi, Ma’ruf sudah tidak terlihat. Petugas istana yang ada di meja absensi mengatakan, Ma’ruf dan ajudannya keluar lagi setelah selesai mengisi buku tamu dan mengambil id tamu. Belum diketahui maksud kedatangan Rais Aam PBNU itu ke Istana.

Dalam agenda Presiden Jokowi juga tidak ada agenda menerima Ma’ruf.

Ma’ruf diketahui masuk ke dalam bursa calon wakil presiden Joko Widodo. Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Romahurmuziy (PPP) menyebut, nama Ma’ruf dipertimbangkan sebagai cawapres bersama sembilan calon lainnya.

Namun hingga saat ini, sosok cawapres Jokowi masih misteri. Penutupan pendaftaran capres dan cawapres sendiri akan dilakukan Komisi Pemilihan Umum pada Jumat (10/8/2018) lusa.

Terkait dukungan KH Ma’ruf Amin,
Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara, Ardiansyah menjelaskan, pernyataan KH Ma’ruf Amin yang blak-blakan mendukung Jokowi ditafsirkan sebagai komentar pribadi.

Menurut Adriansyah, sebagai warga negara Ketua Umum MUI itu memiliki hak konstitusi untuk mendukung sesuai pendapat pribadinya.

“Namun sifatnya ini pribadi, tidak ada imbauan secara keseluruhan kepada kami untuk mengarahkan dukungan kepada siapa,” Selasa (7/8/2018).

Ardiansyah juga melakukan kritik,kiranya dukungan kepada satu calon tidak elok mendukung secara terang-terangan, apalagi memegang pucuk jabatan pimpinan lembaga yang netral.

“Tentunya ulama tidak mendatangi umara, namun kita melihat di sini adalah upaya beliau untuk melakikan kemitraan pusat dengan Presiden,” katanya.

Ardiansyah berpesan kepada para pemuka ulama Sumatera Utara tidak menjadikan agama untuk politisasi.

“Masih banyak yang kita harus selesaikan buka politik saja, masalah narkoba, kenakalan remaja itu ancaman yang benar-benar terhadap bangsa ini,” ucapnya.

Ia juga berharap para ulama juga tidak terlinat dalam politik praktis, apabila ingin berpolitik maka tidak membawa institusi majelis ulama itu sendiri.
Penulis/Editor : Ralian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *