‘Jumat Kramat’ Idrus Marham Ditahan

JAKARTA – Setelah diperiksa selama lima jam, dugaan korupsi kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau-1, akhirnya penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menahan mantan Menteri Sosial Idrus Marham.

Akhirnya ‘Jumat Kramat berlaku bagi Idrus, setelah diperiksa oleh lembaga anti rasuah itu, Idrus akhirnya ditahan di rumah tahanan KPK,

Kepala Biro Humas KPK Febri Diansyah mengatakan, mantan Sekretaris Jendral Partai Golkar itu ditahan selama 20 hari di rumah tahanan KPK.

“Ditahan selama 20 hari pertama di Rumah Tahanan KPK,” ujar Febri di gedung KPK, gedung Merahputih KPK, Jumat (31/8/2018).

Seperti diketahui, Idrus tiba di Gedung KPK pada pukul 13.37 WIB. Idrus yang mengenakan kemeja putih dan celana hitam datang didampingi kuasa hukumnya, Samsul Huda.

Idrus keluar dari Gedung KPK pada pukul 18.29 WIB. Saat keluar dari ruang pemeriksaan di lantai II, Idrus telah mengenakan rompi tahanan oranye berlogo Tahanan KPK.

Idrus diduga berperan dalam pemberian uang suap terhadap Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih. Menurut KPK, Idrus berperan mendorong agar Eni menerima uang Rp 4 miliar pada November dan Desember 2017, serta Rp 2,2 miliar pada Maret dan Juni 2018. Semua uang itu diberikan oleh Johannes Budisutrisno Kotjo, selaku pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited.

Eni Maulani Saragih sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait proyek pembangkit listrik 35 ribu megawatt. Eni diduga menerima suap atas kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau-1 di Provinsi Riau.

Eni diduga menerima suap sebesar Rp 500 juta yang merupakan bagian dari commitment fee 2,5 persen dari nilai proyek kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau-1. Commitment fee tersebut diberikan oleh Johannes Budisutrisno Kotjo.

Dalam kasus ini, KPK juga menetapkan Johannes sebagai tersangka karena memberikan suap kepada Eni. Menurut KPK, dalam pengembangan penyidikan diketahui bahwa Idrus ikut membantu dan bersama-sama dengan Eni Maulani menerima suap.

Akhirnya, hasil pemeriksaan KPK dan berbagai keterangan saksi akhirnya menetapkan Idrus sebagai tersangka dugaan suap proyek kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau-1.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, mantan Ketua Umum KNPI itu mendekam di rumah tahanan KPK.

Sementara, Wakil Ketua KPK Alexander Marwata mengungkapkan, tersangka kasus dugaan korupsi proyek PLTU Riau-1, Eni Maulana Saragih, selalu melapor ke mantan Sekretaris Jenderal Golkar Idrus Marham setiap menerima uang.

“Ada komunikasi antara si Eni, ya dengan si Idrus Marham dan begitu pun dengan keterangan-keterangan dari Johannes Kotjo. Itu Intinya si Eni ketika menerima uang, dia selalu lapor ke Idrus Marham,” kata Marwata di Kepulauan Seribu, Jakarta, Jumat (31/8/2018).

“Itu (penerimaan uang) disampaikan (ke Idrus Marham). Dan juga IM (Idrus Marham) mengetahui si Eni itu menerima uang. Dan sebagian dari uang itu kan digunakan untuk Munaslub Golkar,” sambung Marwata.

Marwata mengatakan, agenda pemeriksaan Idrus sebagai tersangka hari ini, untuk mengklarifikasi sejumlah keterangan dan bukti yang diperoleh penyidik. Penyidik KPK perlu mendalami dugaan perbuatan yang dilakukan oleh tersangka, seperti pertemuan-pertemuan dan pembicaraan tentang proyek PLTU Riau-1.

Penulis: Lukman

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *